Berburu Songket Padang di Pandai Sikek

Sebenarnya wilayah ini memiliki pemandangan alam pegunungan dan suhu udara yang sejuk. Sangat tepat untuk bersantai dan berwisata.

Berbicara mengenai Pandai Sikek tentu tak bisa dilepaskan dari kain songket. Malahan nama wilayah ini melekat dengan kain songket Pandai Sikek atau kerap juga disebut Songket Padang. Maklum saja mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dengan menenun.

Bahkan menurut penenun di Pandai Sikek yang sudah dianggap tetua para penenun di sana, kegiatan bertenun ini sudah berlangsung saat mereka masih kanak-kanak, sekitar tahun 1960. Dari nenek merekalah generasi penenun di Pandai Sikek kini mendapat warisan keahlian menakjubkan terebutsecara turun-menurun.

Sejatinya Pandai Sikek merupakan salah satu nagari yang termasuk ke dalam wilayah kecamatan Sepuluh Koto, dekat Batusangkar, ibu kota dari Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Sebenarnya wilayah ini memiliki pemandangan alam pegunungan dan suhu udara yang sejuk. Sangat tepat untuk bersantai dan berwisata.

Namun rupanya ada hal lain yang menarik perhatian para wisatawan. Yaitu terdapat banyak gerai di nagari Pandai Sikek ini yang menjajakan hasil tenunan rumah tenun pusako. Harga dibanderol dari Rp5,5 juta hingga Rp10 juta per satu set, selendang dan kainnya, tergantung jenis bahan tenunan. Sutra merupakan bahan primadona yang termahal.

Salah satu gerai yang hanya berjarak 700 meter dari gerbang gapura pintu masuk Pandai Sikek adalah  Satu Karya. Di dalam gerai Satu Karya terdapat sebuah peralatan tenun tradisional. Nah, kita  bisa mencoba untuk menenun atau sekedar berpose nih, sobat pesona!

Tenunan tradisional atau songket Pandai Sikek dari Nagari Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar yang bisa didapatkan langsung di berbagai gerai yang ada disana ternyata tak hanya menarik minat wisatawan Nusantara. Namun juga menarik minat konsumen dari luar negeri dan sudah dipasarkan ke beberapa negara di luar negeri.

Pada waktu-waktu tertentu banyak wisatawan mancanegara  yang berbelanja langsung ke ke Pandai Sikek tempatnya. Wisatawan tersebut kebanyakan berasal dari Amerika, Australia, beberapa negara di Eropa, serta Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura. Umumnya pada bulan Mei dan Juni serta September hingga Desember.

Warga Pandai Sikek masih mempertahankan penenunan dengan mesin tenun manual karena konsumen lebih menyukai karya handmade. Karenanya songket harus melalui delapan peringkat sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional.


Foto: Jaka Thariq