Hangatnya Sunset Gunung Bromo

Beberapa kali menyusuri pasir Bromo tidaklah membuat saya jenuh. Kali ini saya kembali menggunakan kendaraan roda dua. Jika biasanya wisatawan berbondong untuk menikmati sunrise, tidak demikian dengan saya. Saya lebih memilih menikmati sunset Bromo yang menawan. Tak perlu menaiki ratusan anak tangga, dari bawah sini saja sudah sangat indah.

Beberapa kali menyusuri pasir Bromo tidaklah membuat saya jenuh. Kali ini saya kembali menggunakan kendaraan roda dua. Jika biasanya wisatawan berbondong untuk menikmati sunrise, tidak demikian dengan saya.  Saya lebih memilih menikmati sunset Bromo yang menawan. Tak perlu menaiki ratusan anak tangga, dari bawah sini saja sudah sangat indah.

Di waktu yang lalu, saya membawa motor sendiri dari Bali.  Dibutuhkan waktu 8 jam untuk tiba di Gunung Bromo.  Namun dengan adanya tol saat ini, saya memilih untuk “fly and ride”. Ya, hanya dibutuhkan waktu 1,5 jam dari Bandara Juanda ke kaki Gunung Bromo.

Saya memilih untuk menyewa motor pada penduduk setempat.  Dengan harga sewa 300 ribu rupiah per hari, per hari termasuk BBM yang penuh, sangat membantu menghemat waktu saya di perjalanan. Memacu motor di tengah gembur nya pasir membuat adrenalin saya meningkat. Ditambah dengan indahnya pemandangan di sisi kiri dan kanan yang beratapkan awan.

Dimulai dari Gunung Tengger, lalu bermain debu di kawasan Pasir Berbisik. Pasir disini benar-benar seakan berbisik, terlebih saat ditiup angin.

Sambil menunggu sunset, saya berhenti sejenak mengabadikan moment. Spot favorit saya adalah perbatasan antara Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies: sabana! Sabana ini selalu menyajikan warna yang berbeda di setiap kedatangan saya. Terkadang hijau, terkadang tampak menguning dan tak jarang habis terbakar akibat kemarau.

Saya melanjutkan perjalanan kearah jalanan beton yang membawa saya ke pertigaan Desa Ranupane.  Tak pernah terlewatkan, ini adalah spot terbaik untuk menikmati semangkuk bakso di sore hari. Cuaca yang dingin selalu membuat perut lebih cepat lapar bukan.

Menjelang sore adalah waktu yang sangat baik untuk mengunjungi Gunung Bromo versi saya. Sangat jarang saya temukan Jeep, jasa penyewaan kuda maupun pedagang kaki lima. Dengan keadan yang lebih sepi, saya bisa dengan leluasa memacu motor di atas luasnya pasir kaki Gunung Bromo. Sangat berbeda dengan pagi hari, di saat senja hanya kegiatan asli masyarakat lokal yang terlihat. Kesan yang diberikan juga jadi berbeda. Yuk, Sobat Pesona sekali-kali coba menikmati senja di Gunung Bromo!