Semangat Bertahan Masyarakat di Pantai Rate Ende Selatan

Jika di daerah lain umumnya untuk mencegah abrasi pantai biasanya dilakukan dengan menanam bakau. Akan tetapi di Ende masyarakat tidak ingin menyerah terhadap kesulitan bibit bakau.

Sebenarnya pantai-pantai di Ende bagian selatan tak kalah indah dengan yang ada di bagian utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun berbeda dengan pantai-pantai di Flores bagian utara, di bagian selatan seperti di Pantai Rate, Ende Selatan kerap diterjang gelombang pasang.

Sebab sejak tahun 1992 ketika gempa dahsyat di Flores terjadi, gelombang pasang kerap terjadi di wilayah ini. Bahkan bisa sampai dua kali dalam setahun. Puncaknya pada tahun 2009 gelombang pasang menerjang wilayah ini sampai setinggi lutut orang dewasa.

Uniknya, walau dilanda abrasi berat, pantai Rate tetap menampilkan keindahan ketika senja menjelang. Maklum selain masalah gelombang pasang, sebenarnya alam di Ende Selatan terbilang masih asri. Malahan keberadaan penahan abrasi berupa bebatuan yang ditebar di pantai Rate justru menambah keunikan pemandangan di wilayah ini.

Nampaknya masyarakat setempat juga tidak menyerah begitu saja dengan keadaan yang ada. Sebagai masyarakat yang menggantungkan diri dari laut, mereka tidak berpangku tangan menunggu bantuan pemerintah begitu saja, melainkan ikut berperan aktif.

Jika di daerah lain umumnya untuk mencegah abrasi pantai biasanya dilakukan dengan menanam bakau. Akan tetapi di Ende masyarakat tidak ingin menyerah terhadap kesulitan bibit bakau.

Untuk menahan gempuran abrasi, mereka berupaya menanam pandan, waru, ketapang, angsana, dan asam. Keterlibatan warga dengan menyemai bibit sendiri patut diacungi jempol meski masih harus diuji hasilnya.

Memang jika dilihat dalam kesehariannya, ancaman abrasi yang serius nampak tak mampu melemahkan semangat hidup masyarakat Ende Selatan. Terbukti mereka tetap nampak ceria, anak-anak tetap bercengkerama dan bermain bola di pantai walau ancaman abrasi ada di depan mata.


Foto: Jaka Thariq