Gudeg Mbarek Bu Hj. Amad, Pancen Oye!

Rumah makan gudeg ini termasuk yang legendaris di Yogyakarta. Kabarnya sejak tahun 1950 merek ini dirintis Bu. Hj. Amad dengan berjualan gendong di Pasar Beringharjo. Pada saat gedung pusat UGM dibangun, ia menyasar para pekerja proyek dengan berjualan di Kampung Barek yang berada di sebelah utara selokan Mataram, sehingga ia dikenal pula dengan nama Gudeg Mbarek.

Menyebut Jogjakarta sebagai kota Gudeg rasanya bukan hal yang berlebihan. Dari sinilah inilah warisan kuliner sejak zaman raja-raja Jawa itu lahir dan menjadi warisan budaya yang sangat penting untuk terus dilestarikan.

Sebenarnya saya bukan penggemar gudeg. Makanan yang bahan utamanya adalah buah nangka itu seringkali terlalu manis di lidah saya. Makanya ketika sampai di Yogyakarta, pikiran saya lebih membayangkan berburu makanan di malam hari yang menggugah selera.

Bersama rombongan, saya sepakat menuju Jalan Kaliurang Km. 5 setelah keluar dari Bandara Adi Sucipto. Daerah yang juga dikenal sebagai komplek Universitas Gajah Mada berada ini ramai dengan warung makan. “Kita nanti makan gudeg ya! Wes, aku jamin gudeg yang ini enak tenan,” ujar salah seorang teman yang mencoba meyakini saya. 

Rombongan kemudian menuju sebuah rumah makan besar dengan plang bertuliskan Gudeg Mbarek Bu. Hj. Amad.  Rumah makan ini termasuk yang legendaris di Yogyakarta. Kabarnya sejak tahun 1950 merek ini dirintis Bu. Hj. Amad  dengan berjualan gendong di Pasar Beringharjo. Pada saat gedung pusat UGM dibangun, ia menyasar para pekerja proyek dengan berjualan di Kampung Barek yang berada di sebelah utara selokan Mataram, sehingga ia dikenal pula dengan nama Gudeg Mbarek.

Meski hari sudah menuju waktu makan siang, kami tiba agak awal sehingga resto ini belum terlihat ramai. Begitu masuk, kami langsung disambut etalase makanan dari kaca yang disusun dalam baskom-baskom berukuran besar.

Dalam etalase itu terlihat baskom berisi gudeg, telur bacem, tahu bacem, dan ayam bacem. Sementara di tengah dua baskom yang tidak kalah penting bagi penyajian gudeg  yaitu kerecek dan areh.

Krecek atau kerecek adalah kulit sapi yang dikeringkan. Selain dibuat kerupuk kulit, krecek dapat dimasak menggunakan bumbu-bumbu sambal goreng dengan kuah yang banyak. Dalam penyajian gudeg, krecek akan menentukan pedas atau tidaknya rasa gudeg yang kita makan. Sebab biasanya ada cabe merah yang disebar dalam “sambal” krecek ini.

Yang kedua adalah areh. Areh adalah santan kental yang sudah dibumbui bumbu khas dan diletakkan di atas gudeg. Areh yang dimasak dengan waktu yang cukup lama ini diproses sampai mengeluarkan minyak agar santan dapat bertahan lebih lama.

Gurihnya areh  menjadi penting karena rasanya akan menyeimbangkan gudeg yang cenderung manis. Apalagi ketika bertemu rasa pedas dari krecek, maka perpaduan itu semua dengan anatara gudeg, areh, krecek dan nasi putih di jamin pancen oye.