Menguak Sejarah Suku Banjar dari Kecantikan Kain Sasirangan

Bahan-bahan alami yang digunakan tersebut menghasilkan warna yang sangat mengagumkan, dan tidak kalah dengan pewarna tekstil.

Kain Sasirangan adalah salah satu peninggalan sejarah zaman dahulu yang dimiliki masyarakat Suku Banjar. Kain Sasirangan saat ini memang kurang populer di kalangan anak muda.

Kain Sasirangan yang merupakan kain khas Suku Banjar, pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat. Konon, sang Patih sedang bertapa, lalu mendengar suara seorang putri yang bernama Putri Junjung Buih. Putri Junjung Buih memberikan permintaan berupa sebuah Istana Batung dan selembar kain yang diwarnai dalam waktu satu malam. Hal tersebut dilakukan agar sang Putri mau menampakkan dirinya.

Terdapat pula mitos yang dipercaya oleh masyarakat hingga kini, yaitu kain Sasirangan merupakan kain penyembuh penyakit. Pada zaman dahulu, kain Sasirangan hanya dibuat berdasarkan permintaan pesanan. Sehingga disebut pula kain pamintaan atau kain permintaan.

Pewarnaan kain Sasirangan menggunakan bahan alami. Contohnya, warna kuning dibuat dari bahan temulawak. Warna merah diperoleh dari mengkudu dan gambir. Warna cokelat diperoleh dari kulit buah rambutan. Warna hitam diperoleh dari kauau atau uar. Sedangkan warna ungu diperoleh dari biji buah gandaria.

Bahan-bahan alami yang digunakan tersebut menghasilkan warna yang sangat mengagumkan, dan tidak kalah dengan pewarna tekstil. Kelebihan lain dari kain Sasirangan adalah lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan alami serta memiliki warna yang tidak mudah pudar.

Kain batik khas Banjar ini saat ini banyak ditemui di toko oleh-oleh di Kalimantan. Selain itu, di pasar tradisional pun dapat kita temui jenis kain ini. Kain Sasirangan yang ada di pasar tradisional biasanya dalam bentuk selendang, kerudung, dan sarung.

Jadi, tidak ada salahnya menjadikan kain cantik tradisional dari Kota Seribu Langgar ini sebagai cinderamata yang unik dan menarik untuk keluarga kita.


Foto: Jaka Thariq