Upacara Tarawangsa, Syukuran Sehabis Panen Padi di Rancakalong

Dua orang pria duduk memainkan alat musik petik. Sementara dua orang lagi duduk bersila, satu mengucapkan syair, satu lagi menari. Ya, itulah gambaran saat upacara Tarawangsa dimainkan di ajang Etno Musik Festival 2019, Taman Ismail Marzuki, 12 September 2019.

Upacara Tarawangsa ini menggunakan alat musik petik. Pertama disebut Tarawangsa, alat musik dua senar yang dimainkan seperti rebab. Lalu, alat musik Jentreng yang mirip alat musik kecapi memakai tujuh senar.


Berkembang Sejak 1550
Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di daerah Jawa Barat, Tarawangsa mulai ada sejak  kekuasaan Mataram pada 1550. Upacara Tarawangsa berkembang di daerah Rancakalong, Sumedang. Pada masa itu, Rancakalong mengalami masalah kelaparan lantaran panen yang gagal. Bencana ini diduga lantaran masyarakat tidak taat kepada Dewi Sri (Dewi Padi).

Atas inisiatif seorang tetua adat, diutuslah ke Mataram untuk mengambil bibit padi. Setelah ditanam bibit padi tersebut tumbuh subur. Meyakini adanya campur tangan Dewi Sri, masyarakat Rancakalong tak lupa menggelar syukuran dengan menghadirkan kesenian, musik dan tari. Dari sinilah upacara Tarawangsa berkembang dan jadi bagian ritual sebahis panen.


Memakai Empat Selendang
Dalam aksinya, dua orang pemain musik memetik alat rebab dan kecapi secara bersamaan. Lalu, penari bergoyang sambal diiringi musik. Penari Tarawangsa  menggunakan empat selendang beda warna. Selendang putih melambangkan kesucian, merah berani, hijau lambang kehidupan, dan kuning lambang kewibawaan. Dalam adegan aksi upacara Tarawangsa itu ada yang berperan sebagai orang yang dituakan dan membaca syair dengan khusyuk.

Pada ajang Etno Musik Festival 2019 itu, upacara Tarawangsa dibawakan oleh sanggar Lugina yang berdiri sejak 2013. Pada ajang itu, sanggar yang dipimpin oleh Pupung Supena membawakan ritual terima kasih pada Sang Maha Pencipta. Lalu, syair yang bersumber dari agama Islam, isinya mengingatkan umat manusia agar selalu menjaga alam sekitar.


Foto: Rachmad Sadeli