Sejarah Awal Warung Tinggi, Warung Kopi Pertama di Batavia

Warung Tinggi, atau yang dulunya bernama Tek Sun Ho, didirikan pada 1878 oleh Liaw Tek Soen di Jalan Molenvliet Oost, atau sekarang dikenal dengan Hayam Wuruk.

Selama 137 tahun beroperasi, hingga kini kedai ini masih beroperasi, bahkan menjelma menjadi kedai kopi modern di mal bergengsi Grand Indonesia sejak 2014. Sudah lima lintas generasi yang berusaha mempertahankannya. Dimulai dari Tek Sun sebagai pendiri, kemudian diteruskan oleh anak angkatnya, Liaw Tek Siong.

Di awal pendiriannya, konsep Warung Tinggi berbentuk toko kelontong dan warung nasi. Orang-orang yang datang berbelanja dapat duduk santai sambil menikmati kopi. Namun, lama kelamaan permintaan akan kopi terus meningkat. Dari situlah kopi akhirnya dipilih menjadi panggilan hidup generasi lintas keluarga ini.

Liauw Tek Sun adalah pendatang dari Guangdong, Tiongkok, bersama istrinya yang pribumi, pada 1870-an mendirikan warung nasi di daerah Molenvliet Oost (sekarang Jalan Hayam Wuruk 56-57 Jakarta Barat), di sisi timur Kanal Molenvliet. Pada masa itu, Molenvliet merupakan jalur transportasi dari Kota Tua ke Kota Baru (Weltevreden) di bagian selatan Batavia. Rumah tinggal mereka di Jalan Kebon Jeruk, sebelah timur Jalan Hayam Wuruk.

Pasangan ini membeli kebutuhan sehari-hari seperti gula, garam dari pedagang keliling, para perempuan pribumi Priangan yang menyunggi bakul berisi dagangan. Pada suatu ketika, seorang pedagang menawarkan biji kopi segar yang baru dipetik, kepada Tek Sun. Ini tentu tak disangka-sangka, sebab biasanya kopi hanya dijual ke saudagar Belanda untuk dinikmati kalangan atas, di antaranya orang-orang Belanda.

Tek Sun mulai mengolah biji kopi menggunakan kayu bakar, menyeduhnya, dan dihidangkan kepada pelanggan sebagai minuman sesudah makan. Ternyata, kopi lebih laku dibanding nasi. Warung nasi pun ditutup dan kedai kopi pertama di Weltevreden dibuka pada 1878, diberi nama Tek Sun Ho

Dalam rentang waktu selama lebih dari 100 tahun, tak sedikit cobaan yang dihadapi. Mulai dari terpaksa tutup lantaran adanya peperangan antara Jepang dan Belanda, hingga kerusuhan 1998.

Saat ini setidaknya sudah ada 200 lebih jenis kopi racikan yang dimiliki Warung Tinggi. Dalam sebulan setidaknya Warung Tinggi bisa menjual 10 sampai 20 ton kopi racikan. Beberapa negara menjadi tujuan ekspor, seperti Jepang dan Amerika. Namun, khusus untuk yang dijual di coffee shop Koffie Warung Tinggi mayoritas berjenis soft blended.

Baru pada 27 Agustus 2015 lalu, Koffie Warung Tinggi mulai berani memperkenalkan lagi jenis kopi yang lebih kuat, yaitu kopi Excellence. Kopi ini sengaja diracik untuk orang yang memang sudah terbiasa minum kopi, sehingga bila belum terbiasa akan menyebabkan pusing, tubuh terasa panas, perut mual, dan wajah merah padam. Konon, zaman dulu malah yang jenis seperti ini yang paling laris dipesan di Warung Tinggi.


Foto: Andy Prabowo, Fitri Philosophia, Lena Ng