Blusukan ke Kampung Adat di Pulau Sumba

Perjalanan ke Pulau Sumba membawa saya jauh dari sekedar berburu pantai, danau, air terjun, sabana atau senja yang memukau. Pulau Sumba memikat saya dengan rumah-rumah adatnya yang masih lestari. Rumah adat yang penuh dengan filosofi kehidupan, dibangun berdasarkan ilmu dan pengalaman para leluhur.

Rumah tidak hanya dijadikan tempat berkumpul atau bernaung. Rumah adalah sebuah identitas bagi peradaban sebuah keluarga bahkan masyarakat. Oleh karena itu, rumah tak jarang dijadikan media untuk mengingat, mengenang dan melestarikan adat istiadat dan budaya.

Perjalanan ke Pulau Sumba membawa saya jauh dari sekedar berburu pantai, danau, air terjun, sabana atau senja yang memukau. Pulau Sumba memikat saya dengan rumah-rumah adatnya yang masih lestari. Rumah adat yang penuh dengan filosofi kehidupan, dibangun berdasarkan ilmu dan pengalaman para leluhur. Rumah-rumah adat yang tegar berdiri ditengah rumah-rumah yang telah tersentuh modernisasi.

Untuk melihat rumah-rumah adat tersebut, saya mesti blusukan ke kampung-kampung tradisional yang ada di Pulau Sumba. Adapun kampung tradisional yang menjadi favorit saya adalah Kampung Adat Praijing dan Kampung Adat Ratenggaro.

Kampung Adat Praijing
Berada di Desa Tebara serta masuk dalam kecamatan Waikabubak, Kampung Adat Praijing sebenarnya hanya berjarak kurang lebih 3 kilometer dari pusat kota kabupaten Sumba Barat. Rumah-rumah di Praijing memiliki atap berumbai- rumbai dan dindingnya terbuat dari kayu. Terdapat tiga bagian penting didalam rumah, yaitu bagian bawah atau kolong, bagian tingkat kedua, dan bagian loteng seperti menara.

Bagian bawah atau kolong rumah biasanya digunakan untuk tempat memelihara binatang ternak. Sementara pada bagian tingkat kedua rumah, dijadikan untuk tempat tinggal. Pada bagian loteng yang berbentuk seperti menara biasanya dijadikan tempat untuk menyimpan bahan makanan atau benda-benda pusaka. Yang unik lagi dari rumah-rumah yang ada di kampung adat Praijing ini adalah pada bagian atap terdapat tiang yang menjadi pembeda antara pintu laki-laki dan pintu perempuan.

Kampung Adat Ratenggaro
Kampung adat Ratenggaro adalah komposisi wisata alam dan budaya yang begitu menarik dan hanya ada di pulau Sumba. Berjarak 30 kilometer dari kota Tambolaka yang berada di kabupaten Sumba Barat Daya, Ratenggaro di Desa Umbu Ngedo.

Saya sendiri begitu penasaran ketika melihat menara dari rumah adat Ratenggaro yang tidak sama tinggi dan rendahnya. Belakangan baru saya tahu bahwa tinggi rendahnya menara rumah di kampung ini didasari oleh status sosial warganya.

Kampung Adat Ratenggaro juga terkesan magis. Bagaimana tidak, sejarah berbicara tentang makna dari nama kampung ini sendiri. “Rate” yang mempunyai arti “kuburan”, sedangkan “garo” adalah “suku” atau “penduduk pertama yang menempati kawasan ini”. Saat terjadi perang antar suku, kampung ini berhasil direbut dari Suku Garo. Selanjutnya, korban yang kalah perang akan dimakamkan pada kuburan batu. Bentuk dari kubur batunya sendiri seperti persegi atau meja datar.