Istana Kesultanan Pontianak Menyuguhkan Sejuta Pesona

Istana ini bernuansa Islam dengan aneka hiasan yang mencerminkan simbol-simbol agama Islam.

Istana Kesultanan Pontianak juga dikenal dengan sebutan Istana Kadariyah. Berlokasi di pusat kota Pontianak, tepatnya di Kampung Beting, kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Pontianak, Kalimantan Barat. Kisah istana ini bermulai dari seseorang bernama Sayyid Sarif Abdulrahman Alkadrie.

Pada abad ke 18, dipimpin oleh Habib Husein al-Qadri rombongan pendakwah dari Tarim (Hadramaut) datang ke Kalimantan Barat untuk menyebarkan agama Islam. Di Kalimantan Barat, beliau menyebarkan agama di Matan ke Mempawah dan selanjutnya diangkat sebagai ulama besar oleh Sultan Matan.

Setelah wafat, Habib Husein al-Qadri digantikan oleh putranya Sayyid Sarif Abdulrahman Alkadrie. Bersama keluarga dan pengikutnya menyusuri sungai  mencari tempat baru. Melalui sungai Kapuas kecil hingga akhirnya menemukan tempat yang menjadi cikal bakal kota Pontianak.

Di tempat ini istana Kadariyah dibangun. Dimulai pada 1771 dan selesai pada 1778. Istana ini terletak di pertemuan tiga buah sungai; Landak Kapuas kecil dan Kapuas besar. Tempat in bisa dicapai melalui jalur darat ataupun sungai dari pelabuhan Sanghie menggunakan perahu cepat.

Di depan istana terdapat meriam kuno buatan Portugis dan Prancis, dan genta kuno yang dulunya berfungsi sebagai penanda bahaya. Istana ini dibangun dengan menggunakan menggunakan kayu pilihan sehingga tetap kokoh hingga kini.

Istana ini bernuansa Islam dengan aneka hiasan yang mencerminkan simbol-simbol agama Islam. Di atas pintu utama terdapat sebuah mahkota dan tiga ornamen bulan dan bintang. Al Qur'an tulis tangan juga dapat dijumpai di sini. Di bagian dalam terdapat ruang pertemuan yang disebut Balairung yang berguna sebagai ruang pertemuan. Warna kuning mendominasi ruangan. Warna yang melambangkan kewibawaan dan ketinggian budi pekerti dalam budaya Melayu.

Di istana ini terdapat berbagai koleksi benda-benda bersejarah seperti senjata, piring-piring kuno dan berbagai arca. Juga ada Kaca Seribu, sebuah cermin besar yang berasal dari Prancis. Serta silsilah kesultanan Pontianak yang masih terawat dengan baik.

Istana ini telah dua kali direnovasi dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Semua itu bertujuan agar Istana Kesultanan Pontianak dapat berdiri kokoh hingga nanti.


Foto: Jaka Tariq