Susur Pantai Bintan, Panorama Indah dan Fasilitas Lengkap

Pantai di Pulau Bintan di Kepulauan Riau identik dengan Lagoi. Di Lagoi jalanan bersih, luas, dan pepohonan tertata rapi. Terdapat empat resor besar di sini. Selain pantai privat, resor juga memiliki spa, klub, dan lapangan golf. Tiap resor dilengkapi portal berpenjaga.

Mengunjungi Pulau Bintan mengantarkan imajinasi saya pada Suku Laut yang tinggal di perairan ini di masa lalu. Suku ini dulu tinggal di sampan beledok dan sampan kolek. Orang Laut memiliki kampung tertentu di darat untuk singgah saat angin kencang atau harus memperbaiki perahu.

Tiap bocah Orang Suku Laut dibekali kemampuan kelautan sejak dini. Mulai dari pengenalan perahu, menentukan arah dengan panduan astronomi, hingga menyiasati ombak. Saat pancing belum dikenal, Orang Laut menangkap ikan dengan tombak dan bubu, yaitu perangkap berbentuk keranjang dari bambu. Bila laut tenang tak berombak, mereka menyelam untuk mengambil teripang dan siput. Kini, Suku Laut yang tersisa di Pulau Bintan tinggal di kawasan Tanjung Berakit.

Pantai di Pulau Bintan di Kepulauan Riau identik dengan Lagoi. Di Lagoi jalanan bersih, luas, dan pepohonan tertata rapi. Terdapat empat resor besar di sini. Selain pantai privat, resor juga memiliki spa, klub, dan lapangan golf. Tiap resor dilengkapi portal berpenjaga. Bila ingin memasukinya dan tak ingin menginap, sebutkan saja keinginan untuk mengunjungi pantai. Tiap mobil yang masuk akan dibekali penanda sebagai tamu.

Saya menikmati pemandangan bibir pantai saat tiba-tiba seorang perempuan melesat dari flying fox. Wuss! Ia meluncur dengan pengikat di kawat baja. Jeritannya tertelan suara angin. Saya kemudian duduk di atas batang kayu menikmati semilir angin. Angin yang sama yang membelokkan arah daun kelapa.

Selesai di Lagoi, hari berikutnya perjalanan berlanjut ke Pantai Trikora. Jalan menuju pantai ini sepi. Sebenarnya antara Pantai Trikora dan Lagoi adalah bibir laut yang tak terputus. Tapi perbukitan dan resor menjadi pemisah dua kawasan wisata ini. Sebelum memasuki Pantai Trikora, kawasan pemukiman nelayan terlihat di tepi jalan.

Di pinggir jalan di Kecamatan Gunung Kijang, nelayan sibuk mempersiapkan perlengkapan melaut. Membersihkan perahu, memperbaiki jaring, dan melengkapi dengan ember dan kotak penyimpan ikan. Sebagian menjemur ikan bilis. Ikan kecil andalan masyarakat Melayu yang tinggal di sini.

Di satu bagian yang menanjak saya menemukan pemandangan taburan koral. Saya merasakan sengatan pesona melihat tumpukan batu seukuran gajah yang abu-abu. Pasir putih seperti nampan atau karpet yang mewadahi mineral-mineral padat ini.

Kawasan ini rasanya bisa menjadi tempat favorit fotografer untuk merekam landskap atau pemotretan model. Airnya begitu tenang tak berombak. Tak perlu alat apapun untuk berenang tanpa ada kecemasan untuk tenggelam. Air yang jernih dapat menjadi panduan kedalaman laut.