Melestarikan Tradisi Wayang Palembang yang Hampir Punah

Dalam setiap pagelaran Wayang Palembang, Wirawan dibantu 14 orang pemain yaitu 10 orang penabuh gamelan dan 4 orang teknisi. Karena kesibukan masing-masing pemain, biasanya yang bisa ikut pagelaran Wayang Palembang hanya 7-8 orang saja.

Hunian kayu bergaya rumah panggung nomor 234 di Lorong Cek Latah RT 10 Kelurahan 13 Ilir Kecamatan Gandus Palembang ini tampak seperti rumah warga pada umumnya. Namun siapa sangka, rumah sederhana ini adalah tempat tinggal dalang Wayang Palembang.

Kiagus Wirawan Rusdi yang mendiaminya, merupakan satu-satunya dalang wayang Palembang yang masih tersisa. Wayang Palembang pun akan punah, jika pria berusia 46 tahun ini tidak meneruskan melestarikan kearifan lokal ini.

Dulunya, dalang Wayang Palembang masih ada di beberapa daerah di Kota Palembang, seperti di kawasan Kepandean, Kelurahan 7 Ulu dan Kelurahan 14 Ulu. Namun seiring waktu, tradisi ini tidak diteruskan ke generasi selanjutnya.

Anak pertama dari sembilan bersaudara ini, merupakan generasi ketiga yang dipercaya meneruskan tradisi Wayang Palembang. Sejak ayahnya meninggal pada tahun 2004, Wirawan, sapaan akrabnya, yang diwariskan ratusan wayang kulit khas Palembang.

Koleksi Wayang Kulit yang ia miliki berasal dari berbagai zaman. Yang paling lawas yaitu wayang Pendito Budi Sedjati dan wayang Arjuno yang berasal dari abad ke-17. Ada juga beberapa wayang yang dihadiahkan oleh Presiden Soeharto, saat ayahnya masih aktif menjadi dalang Wayang Palembang.

Pada tahun 2004, Wirawan mendapat bantuan wayang kulit dari UNESCO sebanyak 50 dan 6 unit gamelan untuk pagelaran, yang diserahkan oleh Kementrian Kebudayaan. Selain menjadi dalang Wayang Palembang, dia juga meneruskan Sanggar Kesenian Sri Wayang Kulit Palembang, yang sudah ada sejak tahun 1950-an.

Dalam setiap pagelaran Wayang Palembang, Wirawan dibantu 14 orang pemain yaitu 10 orang penabuh gamelan dan 4 orang teknisi. Karena kesibukan masing-masing pemain, biasanya yang bisa ikut pagelaran Wayang Palembang hanya 7-8 orang saja.

Wayang Palembang biasanya menampilkan kesenian daerah ini selama dua jam. Ada perbedaan penampilan Wayang Kulit Jawa dan Wayang Kulit Palembang. Salah satunya penabuh gamelan yang menggunakan pakaian adat Palembang, irama tabuh gamelan yang bercampur irama melayu.

Ciri khas Wayang Palembang lainnya yaitu menabuh gamelan dari urutan kiri ke kanan. Ternyata cara menabuh ini juga berasal dari tradisi orang terdahulu, yang lebih bisa membaca tulisan arab dibandingkan bahasa Indonesia. Sehingga kebiasaan membaca huruf arab dari kanan ke kini, juga menular saat memainkan gamelan.

Karakter wayang juga sudah banyak dikoleksi, mulai dari tokoh Kurawa dan saudaranya sebanyak 99 wayang, Gunungan, Semar, Pendito Budi Sedjati, Arjuno dan lainnya. Wirawan juga sangat hafal nama-nama wayang tersebut.

Agar bisa terus melestarikan tradisi ini, Wirawan rela tidak mencari pekerjaan agar bisa fokus saat ada berbagai pagelaran. Namun sayang, minat Wayang Palembang semakin tergerus, terlebih ajakan pertunjukan yang semakin sepi.

Kesulitan melestarikan Wayang Palembang ini juga terletak pada produksi wayangnya sendiri. Dia harus memesan wayang di Pulau Jawa, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo, terutama di pusat perbelanjaan Malioboro. Jika pun ada pengrajin asal Pulau Jawa yang tinggal di Kota Palembang, bahan wayang kulit yang berasal dari kulit kerbau, harus dikirim dari Pulau Jawa.


Foto: F. Lubis