Mengenal Kain Tenun Troso Jepara dari Corak dan Sejarahnya

Kain tenun troso ini mempunyai keunikan pada motifnya. Tidak hanya bernuansakan tradisional, etnik atau pun klasik. Namun, juga memiliki cita rasa yang modern dengan motif-motif kontemporer.

Tenun troso Jepara adalah salah satu kerajinan tenun yang berasal dari kota Jepara. Selain terkenal dengan industri ukir dan pantainya yang indah, ternyata kota ini juga mempunyai sentra kerajinan tenun yang cukup terkenal, tidak hanya di daerahnya saja, melainkan sudah merambah keluar kota bahkan mancanegara.

Proses pembuatan kain tenun ini tidak menggunakan mesin, melainkan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sehingga proses pembuatannya cukup rumit. Satu jenis motif  kain saja bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan. Oleh karena itu, harganya pun lebih mahal dibandingkan dengan batik cap.

Kain tenun troso ini mempunyai keunikan pada motifnya. Tidak hanya bernuansakan tradisional, etnik atau pun klasik. Namun, juga memiliki cita rasa yang modern dengan motif-motif kontemporer. Di antaranya adalah, motif krisna, motif ukir, motif rantai, motif naga, motif cempaka, motif dewi sri, dan lain-lain. Sehingga kain tenun ini cocok dipergunakan oleh berbagai kalangan, untuk digunakan di berbagai acara.

Proses pembuatan tenun ini juga lumayan rumit. Diawali dengan proses menyusun benang dengan rapi dalam bentuk sejajar, kemudian benang tersebut dikaitkan dengan kayu yang berbentuk kotak, hal ini disebut nali atau mengikat dengan tali rafia. Proses berikutnya adalah penataan motif dan pemberian motif pada benang yang akan ditenun. Proses tenun dilakukan dengan ATBM. Sehingga menghasilkan lembaran kain yang siap dipasarkan.

Setelah menjadi bentuk kain. Selanjutnya dapat digunakan untuk membuat berbagai ragam busana. Di antaranya hem, blus, rok atau pun sarung. Dengan bermacam motif dan warna yang menarik, kain tenun in ini sudah mulai digemari oleh berbagai kalangan. Baik para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Harga jual kain tenun ini pun bervariasi, dibandrol dari harga 135 ribu sampai 500 ribu untuk jenis kain katun. Dan 500 ribu hingga jutaan rupiah untuk jenis kain sutra. Salah satu kelebihan kain tenun ini adalah tidak mudah luntur dan lebih awet.


Mengenal Sejarah Kain Tenun Troso Jepara
Menurut legenda yang ada, sejarah tentang kain tenun troso ini dimulai saat masuknya agama Islam di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Yaitu pada masa berdirinya kerajaan Mataram Islam. Konon, kain ini pertama kali dipakai oleh Mbah Senu dan Nyi Senu, pada saat mereka akan menemui Ulama besar, Mbah Datuk Gunardi Singorojo, saat Beliau berdakwah di Desa Troso.

Seiring dengan berjalannya waktu, pada awalnya kain tenun ini dibuat khusus untuk pelengkap pakaian raja. Akhirnya, para warga mulai belajar keterampilan menenun kain ini dan diwariskan secara turun temurun.  Pada sekitar tahun 1935, sebelum kemerdekaan RI, para pengrajin tenun ini membuat kain tenun Gedong. Kemudian, seiring dengan bertambahnya keahlian mereka, mulai membuat kain Tenun Pancal, sekitar tahun 1943.

Pada tahun 1960-an perkembangan yang signifikan terjadi pada industri tenun di daerah ini. Para pengrajin itu mulai beralih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Namun, produksi tenun ini juga pernah mengalami masa krisis, yaitu sekitar tahun 1970-an.

Sampai akhirnya, Gubernur Jawa Tengah yang menjabat saat itu membantu mengatasi masalah tersebut. Melalui Surat Keputusan Gubernur No: 025/219/1988, yang isinya mewajibkan seluruh jajaran pegawai pemerintahan di lingkungan provinsi Jawa Tengah untuk memakai produk tenun setiap hari Jumat. Dan upaya ini berhasil untuk mendongkrak produksi  kain tenun di Jawa Tengah. Sampai saat ini, produksi tenun khas troso terus mengalami peningkatan.

Sebagai warga negara Indonesia, sudah sepatutnya ikut menjaga kelestarian hasil karya daerah kita. Selalu merasa bangga menggunakan produk dalam negeri, adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk tetap melestarikannya. Jika Anda berkunjung ke Jepara, jangan lupa untuk membeli kain tenun troso yang sangat indah ini.


Foto: Jaka Thariq