Bo Sangaji Kai, Naskah Kuno Kisah Sejarah Kesultanan Bima

Tak banyak yang tahu akan eksistensi Kesultanan Bima di Nusa Tenggara Barat berabad lalu. Satu-dua potong kisahnya bisa kita dengar sebagai cerita dari mulut ke mulut yang tak utuh. Namun, tidak ada yang bisa berkisah sebaik Bo Sangaji Kai.

Bo Sangaji Kai merupakan naskah kuno yang mendokumentasikan kisah Kesultanan Bima berabad-abad lalu. Bo dalam bahasa Bima memiliki arti “book” atau “buku”, dan Bo Sangaji Kai adalah buku yang bertutur mengenai sebuah Kesultanan masa lampau, yakni Kesultanan Bima. Naskah asli dari Bo Sangaji Kai ditulis dalam aksara Bima yang bertarikh sekitar 1600-1800 Masehi. Naskah tersebut berisikan 120 halaman dengan kondisi tulisan yang rapi dan kondisi halaman yang masih bagus.

Naskah ini kemudian ditulis ulang dalam media bahasa yang berbeda, yakni bahasa Melayu dengan huruf jawi atau Arab-Melayu pada abad ke-19 dan ditulis di kertas dari Belanda juga Cina. Kabar terakhir, Bo Sangaji Kai diteliti dan dibahas oleh Henri Chambert Loir. Penelitian itu kemudian diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (1999) dengan judul Bo Sangaji Kai: Catatan Kesultanan Bima.

Naskah kuno ini bercerita mengenai sejarah dan silsilah dari Kesultanan Bima. Kisah itu tercakup mulai dari awal mula Bima zaman Hindu-Budha hingga zaman penjajahan Belanda (VOC). Di naskah ini diceritakan bahwa masuknya Islam ke Bima dibawa oleh para ulama dari Sulawesi/Celebes pada tahun 1018 Hijriah atau 1609 Masehi. Dikatakan pula bahwa Bima ini menguasai beberapa daerah yang kini dikenal sebagai Sumbawa, Alor, dan Manggarai.

Pada bagian kisah kedatangan Belanda, disebutkan bahwa Kesultanan Bima pada saat itu sebenarnya tidak dijajah oleh Belanda. Kesultanan Bima hanya mengadakan perjanjian yang sebagian besarnya berisi monopoli perdagangan VOC. Bima saat itu tetap merdeka, memerintah kesultanannya sendiri, tidak berada di bawah Belanda. Barulah setelah sultan BIma ke-7, keduanya membuat perjanjian baru lagi. Kali ini, Belanda mengajak membuat perjanjian tolong-menolong yang justru isinya lebih banyak menguntungkan Belanda dan merugikan Bima.

Selain silsilah, di dalam Bo Sangaji Kai juga diberitahukan adat dan hukum laut Bima saat itu. Hal ini menunjukkan kejayaan maritim Bima pada masa itu, sekaligus mengingatkan kita bahwa iklim maritim adalah iklim yang sudah mengakar pada tradisi bangsa kita dan sudah seharusnya dikembalikan kejayaannya.


Foto: Astri Apriyani