Memahami Bissu, Pendeta Tak Bergender dalam Budaya Bugis

Kaum bissu Bugis adalah para pendeta tak bergender yang sering diasosiasikan sebagai makhluk setengah dewa. Dalam diri mereka, ada cerita panjang tentang kebudayaan Bugis.

Masyarakat Nusantara tumbuh dengan keragaman budaya yang begitu luas, terutama karena pengaruh geografis, lingkungan, yang membuat masing-masing pulau, suku, dan budaya punya beberapa nilai yang berbeda tetapi tersimpul dalam ragam Nusantara. Salah satu daerah yang memiliki keunikan budaya adalah masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan. Sobat Pesona pernah mendengar istilah bissu?

Dalam masyarakat Bugis, bissu merupakan golongan pendeta dalam kepercayaan Tolotang, sebuah kepercayaan tradisional Suku Bugis. Bissu adalah pendeta tanpa golongan gender, ia bisa menjadi bagian representasi dari pria maupun wanita. Hal ini yang membuat bissu sering dipandang sebagai manusia setengah dewa yang punya posisi spiritual sangat tinggi di masyarakat Bugis.

Umumnya, hanya mereka yang terlahir dengan kondisi interseks memiliki dua jenis kelamin yang bisa menjadi seorang bissu. Kondisi yang dalam khazanah medis dinilai sebagai sebuah kelainan seksual, ternyata dihayati berbeda bagi masyarakat setempat, sehingga kehadiran seorang dengan kondisi interseks bisa dikategorikan sebagai bissu. Untuk itulah, perspektif bahwa bissu adalah seorang waria, dengan berbagai perendahan sosial, adalah pernyataan yang tidak tepat.

Masyarakat Bugis sendiri punya wawasan yang luas tentang gender, berbeda dengan pandangan gender umum yang berkembang secara global. Setidaknya, ada lima gender yang ada di masyarakat Bugis. Yaitu, calabai, pria yang berbusana perempuan; calalai, perempuan dengan busana pria; bissu; kemudian makkunrai yang merupakan perempuan feminin; lalu oroane, laki-laki maskulin.

Keragaman gender ini memberi warna baru terhadap elemen sosiologis Nusantara yang begitu banyak ragamnya. Nah, kisah tentang sejarah bissu Bugis ini dijabarkan di kitab La Galigo, salah satu kitab masyarakat Bugis yang menceritakan tentang kehidupan dan penciptaan semesta.


Foto: Naufal Akbar