Mengenal Kaharingan, Agama Turun-temurun Suku Dayak Kalimantan

Kaharingan mempunyai makna suatu kehidupan yang kekal abadi untuk menuju kesempurnaan hidup yang lebih sempurna.

Kaharingan merupakan kepercayaan tradisional Suku Dayak Pulau Kalimantan yang tumbuh secara turun-temurun. Agama ini dianut oleh setidaknya sekitar 300.000 orang yang menyebar di seluruh Pulau Kalimantan.

Agama ini pertama kali dikenalkan oleh Tjilik Riwut saat dia menjabat menjadi Residen Sampit pada 1944. Kemudian pada 1945, kependudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai agama Dayak. Sementara pada zaman Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu dan menjadi Hindu Kaharingan. Integrasi ini bukan karena kesamaan ritual antara Hindu dan Kaharingan, melainkan karena agama Hindu merupakan agama tertua di Kalimantan pada waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yang bernama Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Kitab suci agama Kaharingan adalah Panaturan dan buku-buku agama lain seperti Talatah Basarah (berisi kumpulan doa), dan Tawur (petunjuk tata cara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras).

Sebagai aliran kepercayaan, Kaharingan mengakui ada sosok yang menjadi Tuhan. Uniknya, penyebutan untuk Tuhan dalam Kaharingan berbeda-beda. Ada tiga versi nama Tuhan yang dibedakan berdasarkan wilayahnya, misalnya di Kotawaringin Barat disebut Sanghyang Dewata, dan di Barito disebut Yustu Ha Latalla. Meskipun ada perbedaan dalam menyebut Tuhan, mayoritas pemeluk Kaharingan menyebut sang maha kuasa sebagai Ranying Hatalla Langit, yang bermakna Kuasa Yang Maha Besar.

Agama Kaharingan juga mempunyai berbagai ritual tersendiri. Untuk ibadah rutin, para pemeluk Kaharingan melakukan ritual yang bernama Baserah setiap hari Kamis. Sedangkan untuk ritual penamaan bayi yang baru lahir bernama Nanuhan, dan untuk upacara pernikahan bernama Lunuk Hakaja Pating.

Selain ritual-ritual tersebut, pemeluk Kaharingan juga mengadakan ritual kematian yang membutuhkan biaya banyak bernama Tiwah. Upacara ini disebut mahal karena dalam sekali melakukan upacara, seseorang setidaknya harus mempersiapkan uang sekitar Rp200 juta. Seringkali untuk menghemat biaya agar tidak melambung tinggi, Upacara Tiwah dilakukan bersama-sama dengan beberapa keluarga yang akan mengadakan ritual kematian ini.


Foto: Oksas Tobik