Kong Djie, Warung Kopi Legendaris di Belitung

Kong Djie adalah warung kopi legendaris yang sudah eksis sebelum Indonesia merdeka. Tidak hanya citarasa yang nikmat, ada ruang bagi masyarakat untuk saling berdialog secara egaliter di sini.

Dunia perkulineran Belitung tidak akan lepas dari hidangan-hidangan khas laut. Dengan melimpahnya ikan, udang, kepiting, dan biota laut lainnya, kesegaran hidangan laut ala Belitung memang tidak ada tandingannya. Namun, selain hidangan laut, Sobat Pesona juga bisa memulai petualangan kuliner di Belitung dengan destinasi lain yang tak kalah seru. Ya, Sobat Pesona bisa mengunjungi sebuah warung kopi bernama Kong Djie.

Warung kopi Kong Djie adalah salah satu tempat ngopi paling terkenal dari Belitung. Selain hidangan laut, di Belitung, suguhan kopi juga menjadi primadona, terutama di Manggar yang punya banyak warung kopi. Warung kopi Kong Djie berada di Tanjung Pandan dan bukan sembarang warung kopi.

Sejak pertama dibuka pada 1943, Kong Djie terus hidup dan menjadi ruang penting untuk masyarakat setempat untuk bercengkrama sehari-hari. Selama lebih dari 75 tahun, warung kopi ini terus bertahan dan menjadi citra penting dari kuliner kopi di Belitung. Inilah yang membuat nama Kong Djie tidak hanya sebatas populer di Belitung, tetapi juga di banyak kota besar di Indonesia, sampai banyak dijumpai cabang-cabang sejenis.

Berada di Jalan Siburik Barat yang termasuk daerah Pecinan membuat paduan kultur di Kong Djie tak terelakkan. Ada banyak warga yang berbicara dengan dialek Hokkian dan Melayu. Suasana di warung kopi ini selayaknya warung kopi yang mengembuskan aroma kopi yang menggoda, dekorasi kayu-kayu yang membuat nuansa vintage, sampai suguhan camilan yang semakin membuat suasana begitu hidup di sini. Harga yang terjangkau juga membuat segala jenis lapisan masyarakat bisa berbaur. Lalu, tentunya yang paling utama, kelezatan kopi robusta dan arabikanya seolah membuat waktu jadi lebih lambat dan nikmat.

Jadi, jelas pilihan berkuliner ke sini tidak hanya membuat Sobat Pesona terhibur di lidah, tetapi juga mengajak tenggelam di dalam keramahan warga Belitung.


Foto: Valentina Erista, Harum Anis, Feto