Perjuangan Demi Menikmati Potongan Surga di Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan. Lokasinya ada di barat kawasan “Kepala Burung” Pulau Papua. Saya berkeliling ke Piyanemo, Wayag, dan Misool untuk memburu matahari terbit dan terbenam di surga di timur Indonesia itu.

Sebelum berkesempatan pergi ke Raja Ampat, destinasi di Papua itu menjadi “raja” di  bucket list saya sebagai destinasi perburuan foto lanskap. Sudah lama rasanya ingin menikmati potongan surga di timur Indonesia itu. Ramai sudah orang bercerita kepada saya tentang indahnya alam di sana. “Raja Ampat itu surganya penikmat traveling dan snorkeling juga diving, bro! Lo, harus ke sana,” ujar seorang kawan kepada saya.

Tantangan ke Raja Ampat bukan soal proses dan lama perjalanan yang harus ditempuh.  Berikutnya yang menjadi tantangan adalah mencari di mana sunrise dan sunset itu berada di Raja Ampat, sebab tak semua daerah bisa dijadikan spot untuk berburu matahari terbit dan terbenam.

Petualangan Mencari Matahari
Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan. Lokasinya ada di barat kawasan “Kepala Burung” Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati dan Pulau Batanta.

Untuk menuju Raja Ampat, kita harus terbang dulu menuju Sorong. Untuk melakukan perjalanan dari Sorong untuk menuju ke Raja Ampat ada dua cara. Yang pertama, kita bisa ikut tur dengan kapal pinisi yang berkeliling kepulauan Raja Ampat. Yang kedua, kita bisa menumpang feri menuju ibu kotanya Raja Ampat, Waisai. Dari sana kita bisa menyewa speed boat dan tinggal di resort atau home stay di sekitar kepulauan.

Perjalanan saya diawali dengan menyusuri daerah atas (utara) kepala burung, dari Piyanemo hingga Wayag. Jika diteruskan, perjalanan ini akan mengarah ke perairan lepas menuju Maluku. Untuk menikmati kawasan Wayag dan Piyanemo ini, saya memutuskan tinggal di homestay sekitar Pulau Arborek. Kenapa pilih Pulau Arborek?  Tinggal di homestay di kawasan pulau ini, saya dapat mengabadikan dan menyaksikan keindahan sunset, juga saat matahari terbit esok paginya.

Untuk mengejar masa sebelum matahari terbit, perjalanan dilakukan saat pagi masih gelap. Saat itu, ombak tinggi menghadang perjalanan speed boat saya. Ini adalah perjalanan yang bikin deg-degan dan bikin stres karena kapal terombang-ambing tidak menentu.

Di Piyanemo, sebenarnya kita bisa menikmati saat-saat sunrise dan sunset, tetapi hamparan pulau-pulau unik dengan tebing yang menjulang tersebut bisa menghalangi jatuhnya sinar matahari dan membuat bayangan pada area lain pada pemandangan yang kita bidik.

Jadi, baiknya mengabadikan indahnya Pulau Piyanemo dan Wayag dilakukan saat sinar mentari sudah agak tinggi atau di siang hari. Detail di tebing pulau-pulau yang menjulang akan kian nampak. Perairan di antara pulau-pulau tersebut juga semakin terlihat hijau tosca karena terpapar sinar matahari. Sedangkan untuk mengambil foto sunrise dan sunset, saya bisa melakukannya dari pantai-pantai di Pulau Arborek, Sarpele, atau pantai pulau-pulau lain di sekitarnya.