Gunung Penghasil Belerang Paling Terkenal di Indonesia ini Ternyata Menyimpan Cerita Ekstrem

Sebagai gunung penghasil belerang paling terkenal di Indonesia, ternyata Ijen memiliki kisah ekstrem dari para penambang yang menjadikannya sebagai salah satu pekerjaan paling mematikan di dunia.

Tentu Sobat Pesona di sini sudah tidak asing lagi dengan yang namanya belerang, bukan? Belerang merupakan unsur kimia non logam yang tidak berasa. Sejatinya, sulfur, nama lain dari belerang, dapat Sobat Pesona temui di alam, dimana di sini. Belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral sulfida dan sulfat.

Belerang sendiri memiliki bau yang amat khas, hampir mirip seperti bau telur busuk. Kendati memiliki bau yang tidak sedap, namun di dunia farmasi belerang memiliki banyak manfaat. Mulai dari mengatasi permasalahan kulit hingga mengobati nyeri radang sendi.

Nah, di Indonesia sendiri terdapat beberapa gunung dan daerah yang diplot sebagai penghasil belerang yang namanya sudah cukup tersohor, mulai dari Gunung Tangkuban Parahu yang ada di Jawa Barat, Gunung Dieng yang ada di Jawa Tengah, Gunung Arjuno yang ada di Jawa Timur, Gunung Mahawu yang ada di Sulawesi Utara, hingga Gunung Ijen yang ada di Jawa Timur.

Mungkin Sobat Pesona sudah akrab dengan Gunung Ijen yang masuk ke dalam teritorial dua wilayah, yaitu Banyuwangi dan Bondowoso. Kawah Gunung Ijen ini menjadi salah satu penghasil belerang paling tersohor di Tanah Air.

Saking tersohornya, nama kawah Gunung Ijen sebagai penghasil belerang juga sampai telinga orang di belahan bumi lainnya. Jadi wajar saja jika ada banyak turis mancanegara yang sengaja datang ke Gunung Ijen hanya untuk melihat aktivitas para penambang belerang yang tergolong sebagai pekerjaan yang sangat ekstrem.

Bagaimana tidak, sejak dini hari mula, para penambang belerang ini sudah mulai mendaki ke puncak Gunung Ijen yang berada di ketinggian 2.443 mdpl. Tidak seperti pendaki lain yang ‘menyelimuti’ tubuhnya dengan jaket tebal dan perlengkapan lainnya, mayoritas penambang ini hanya bermodalkan senter yang diikatkan di kepala, sehelai jaket tipis, dan sarung tangan.

Setibanya di puncak gunung, para penambang ini mulai menuruni terjalnya mulut lereng kawah Ijen. Dari situ mereka mulai mengumpulkan ‘pundi-pundi rupiah’ mereka di pinggiran danau kawah Ijen yang memiliki luas kurang lebih 5.466 hektar.

Setelah berhasil mengangkut belerang dalam bentuk batuan kuning, para penambang ini lalu memasukkan hasil buruannya tersebut ke dalam keranjang anyam bambu, dan kembali menuju puncak untuk menyetorkan hasil tambangnya ini dan kemudian diolah menjadi beragam produk, mulai dari alat kosmetik hingga pemutih gula.

Pekerjaan yang diselimuti oleh risiko kematian ini dilakukan para penambang tanpa bantuan alat keselamatan apapun. Maka wajar saja jika pekerjaan ini terbilang ekstrem.

Selain dapat melihat aktivitas dari para penambang belerang, Sobat Pesona juga tidak boleh melupakan fenomena api biru abadi (eternal blue fire) yang ada di puncak Gunung Ijen.

Di dunia, hanya ada dua tempat yang memiliki fenomena alam luar biasa ini, yaitu di Ijen dan Islandia. Bagi Sobat Pesona yang ingin menyaksikan secara langsung fenomena ini, kita bisa mulai mendaki puncak pada dinihari, mengingat fenomena ini hanya akan terlihat ketika tidak ada eksistensi dari matahari.

Tertarik?