Mencari Berkah dari Jamasan Kereta Pusaka Keraton Yogyakarta

Ada dua kereta pusaka yang dijamas atau dibersihkan dalam Jamasan ini. Kereta utama yang tak pernah terlewatkan untuk dijamas adalah Kanjeng Nyai Jimat yang merupakan kereta tertua milik Keraton Yogyakarta. Satu lainnya adalah kereta pandherek atau kereta pendamping yang juga dijamas bergiliran setiap tahunnya.

Bulan Suro merupakan bulan istimewa bagi masyarakat Jawa, khususnya bagi Keraton Yogyakarta untuk menggelar upacara Jamasan Kereta Pusaka. Air bunga dan jeruk nipis digunakan sebagai bahan pembersih agar kereta pusaka keraton tetap terawat dan bersih. Proses Jamasan berlangsung terbuka dan dapat disaksikan oleh masyarakat umum dengan mengambil lokasi di Mueum Kereta Keraton.

Ada dua kereta pusaka yang dijamas atau dibersihkan dalam Jamasan ini. Kereta utama yang tak pernah terlewatkan untuk dijamas adalah Kanjeng Nyai Jimat yang merupakan kereta tertua milik Keraton Yogyakarta. Kereta ini adalah kereta yang pernah digunakan dalam prosesi penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III. Selain Kanjeng Nyai Jimat ada pula kereta pandherek atau kereta pendamping yang  juga dijamas bergiliran setiap tahunnya.

“Tahun ini, kereta pendamping yang dijamas adalah Kanjeng Kiai Jaladara,” kata Wedana Rotodiwiryo, pemimpin prosesi jamasan kereta Keraton Yogyakarta.  Kereta tersebut dibuat semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III dan digunakan hingga masa Sri Sultan Hamengku Buwono IV.  Beliau menjelaskan bahwa proses Jamasan dua kereta tersebut merupakan bagian dari keseluruhan kereta yang berada di Museum Kereta Keraton dengan total 23 buah.

Dari total 23 koleksi kereta pusaka Keraton yogyakarta tersebut, beberapa di antaranya masih tetap digunakan untuk prosesi-prosesi yang dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta hingga saat ini. Kesemua koleksi tersebut secara rutin tetap dirawat dan dibersihkan.

Proses Jamasan kereta ini menjadi sangat menarik. Masyarakat datang dari berbagai daerah, bahkan saya menemukan ada yang dari Ciamis hanya ingin menonton dan mencari air sisa Jamasan. Beberapa warga memang mengumpulkan air sisa Jamasan menyiram lahan pertanian miliknya. Menurut masyarakat yang percaya, air dari Jamasan dapat membuat hasil panen melimpah.

Atraksi yang seru adalah ketika masyarakat umum berebut air sisa Jamasan untuk dibawa pulang atau bahkan di gunakan untuk mengguyur badan dan mandi langsung di tempat tersebut. Air sisa Jamasan tersebut diyakini membawa berkah, kemakmuran, kesehatan dan umur panjang untuk masyarakat sehingga setiap orang berebut untuk mendapatkan air bekas Jamasan kereta pusaka keraton ini. Bahkan sobekan kain sisa yang digunakan untuk membersihkan kereta pun juga menjadi sasaran berebut dari masyarakat yang hadir.

Jika Sobat Pesona berminat mengunjungi dan melihat Jamasan Kereta Pusaka Keraton Yogyakarta, jangan lupa membawa baju ganti atau mungkin botol atau wadah untuk membawa pulang air sisa Jamasan, kalau memang ingin. Sobat Pesona akan hanyut dalam keseruan masyarakat ketika berebut air berkah sisa Jamasan.