Ritual Tepung Toya, Tradisi Untuk Menjaga Moral

Komunitas Indramayu Historia berkolaborasi dengan komunitas Cimanuk Hulu dari Garut menggelar Ritual Tepung Toya. Air Sungai Cimanuk dari wilayah hulu Gunung Papandayan di Garut dikawinkan dengan air Cimanuk hilir dari Pantai Tiris Indramayu untuk kembali mensyukuri aliran Cimanuk yang akan tetap memberikan ruh peradaban pertanian Indramayu.

Saat pekerjaan muda-mudi pesisir Indramayu kebanyakan bukan lagi bertani, muncul kekhawatiran nilai-nilai tradisi dan budaya kian memudar serta pelaksanaannya pun sekedar melestarikan tradisi. Momentum ini, pada 2015, direspons Pemerintah Daerah Indramayu dengan menggelar Karnaval dan Lomba Foto "Excotica 1000 Gadis Ngarot " pada puncak Hari Ulang Tahun Indramayu Ke-488 yang juga jatuh di bulan Oktober.

"Ngarot tidak lebih tua dari Tjimanoek itu sendiri," ungkap Nang Sadewo, penulis buku SUDUT Djedjak Indramayu Tempo Doeloe terbitan Indramayu Historia, mewakili para budayawan Indramayu. Maka jika pada upacara Ngarot prosesi penyerahan kendi berisi air putih dilaksanakan oleh istri kepala desa dan menyerahkannya kepada perwakilan peserta yang menyimbolkan air obat untuk menyuburkan lahan pertanian.

Pada acara "Excotica 1000 Gadis Ngarot", Komunitas Indramayu Historia berkolaborasi dengan komunitas Cimanuk Hulu dari Garut mengadopsinya dengan menggelar Ritual Tepung Toya. Air Sungai Cimanuk dari wilayah hulu Gunung Papandayan di Garut dikawinkan dengan air Cimanuk hilir dari Pantai Tiris Indramayu untuk kembali mensyukuri aliran Cimanuk yang akan tetap memberikan ruh peradaban pertanian Indramayu.

Sungai Cimanuk adalah pusaka Kehidupan masyarakat Indramayu. Pusaka adalah pengingat bagi masyarakat tentang sejarah dan rute peradabannya yang telah terlewati dan sedang berjalan menuju waktu berikutnya. Untuk itulah Ritual Tepung Toya digelar oleh Paguyuban Hulu hingga Hilir sungai Cimanuk (Garut, Sumedang, Majalengka, Indramayu).  

Tepung artinya “perjumpaan” dan toya artinya “nilai-nilai air”. Jadi, upacara Tepung Toya dapat diartikan sebagai, “Perjumpaan Air yang Tuhan Ciptakan melalui Awan, Hujan, Laut dan Sungai sebagai Berkah Kehidupan masyarakat Hulu hingga Hilir sungai Cimanuk”. Ritual Tepung Toya adalah sebentuk sikap moral, sebuah ekspresi penghormatan kepada sungai Cimanuk dari masyarakat yang telah menggunakan, bahkan karena lalai telah mengotorinya dengan sampah. Pesan moralnya adalah sungai seharusnya ditata, pepohonan pelindung dan dijaga. Kita pun berjumpa dan berwujud karena air yang mengalir ke seluruh nadi, hingga anak cucu kelak. Dengan catatan, sembah sujud tafakur kita tetap kepada-Nya.

Tahun 2019, Ritual Tepung Toya akan dikonsentrasikan di Museum Bandar Cimanuk pada 11 Oktober, terpisah dari Gadis Ngarot yang akan hadir keesokan harinya di acara Kirab bersama Memedi Berokan, Kostum Manga dan lainnya, pada 12 Oktober 2019 yang dimulai dari Sport Center dan berakhir di Alun-alun Indramayu. Tepung Toya kali ini akan berkolaborasi dengan musik tradisional khas Cirebon dari Pangkalan Losarang yang nyaris punah, Brai. Musik Sufistik Brai berkembang sejak zaman Wali Sanga dengan tujuan memberi pendidikan dan mengajak masyarakat agar mengenal dan mengerjakan syariat-syariat Islam. Malam harinya akan digelar Pembahasan Naskah Kuno yang telah di digitalisasikan bekerjasama dengan Dream Sea (Digital Repository of Endangered And Affected Manuscripts In South East Asia).