Menjemput Senja di Kilometer Nol Sabang

Di bangunan ini ada 4 pilar. Pilar-pilar ini mewakili titik-titik terluar Indonesia, yaitu Sabang- Merauke, Miangas-Rote.

Mengunjungi Sabang rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi Tugu Kilometer Nol di Kawasan Iboih, Sukakarya, Sabang. Posisi Sabang di ujung barat Indonesia, berhadapan langsung dengan lautan lepas, menjadikan sunset sebagai atraksi menarik.

Tugu ini bisa dicapai dalam waktu sekitar 1 jam dengan mobil dari Kota Sabang. Sebagaimana umumnya jalanan di Pulau Weh yang didominasi gunung, jalan aspal mulusnya berkelok-kelok dan naik turun menuju Tugu Kilometer Nol ini.

Sekitar 5 kilometer dari Iboih, Sobat Pesona sudah memasuki kawasan wisata yang berada di Hutan Wisata Sabang. Pengunjung harus turun dari kendaraan dan berjalan sekitar 100-an meter ke tugu ini. Dulu, kendaraan bisa langsung berhenti di sebelah tugu persis. Sekarang aksesnya hanya bisa dengan berjalan kaki untuk sampai ke dekat tugu.

Waktu yang paling pas untuk tiba di sini adalah sekitar 2-3 jam sebelum matahari terbenam jika ingin menikmatinya. Selain supaya bisa mencari lokasi nyaman untuk menikmati sunset kita juga bisa mengeksplorasi Tugu Kilometer Nol dan Hutan Wisata Sabang di sekitar tugu.

Ada dua platform berbentuk setengah lingkaran yang cukup luas berada di kaki bangunan tugu baru setinggi 22,5 meter ini. Satu posisinya di belakang tugu menghadap ke arah tenggara dengan pemandangan Hutan Wisata Sabang, yang satunya menghadap ke arah barat laut menghadap Laut Andaman, pintu masuk Selat Malaka. Di bangunan ini ada 4 pilar. Pilar-pilar ini mewakili titik-titik terluar Indonesia, yaitu Sabang- Merauke, Miangas-Rote.

Tugu Kilometer Nol ini pertama kali diresmikan pada 9 September 1997 oleh Try Sutrisno yang waktu itu menjabat wakil presiden RI. Dua minggu kemudian, mendiang BJ Habibie yang waktu itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi, menambahkan prasasti yang menjelaskan tentang kilometer nol. Titik kilometer nol ini waktu itu ditentukan lewat alat global positioning system oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.


Foto: Sigit Triwahyu