Kuda Renggong, Kesenian Khas Sumedang Sejak Abad ke-19

Tidak semua kuda bisa dilatih atau dijadikan kuda renggong. Perlu dilihat dulu karakter dan bakatnya saat kuda berusia kurang lebih 20 bulan. Apabila dinilai punya bakat, pelatihan bisa dilanjutkan. Pelatihan kuda biasanya dilakukan 3 kali dalam sehari, yaitu pagi, siang, sore, kadang hingga malam. Setelah 3 hingga 5 bulan pelatihan, kuda sudah dapat melakukan pertunjukkan.

Kuda yang mengenakan kostum warna-warni itu bergerak-gerak seolah menari mengikuti irama. Seorang anak kecil berusia kisaran 6 tahun yang akan dikhitan berada di punggungnya. Alunan lagu Tanji mengiringi arak-arakan. Seekor kuda dituntun oleh 2 orang  diikuti oleh 4 hingga 6 orang penari dan diakhiri oleh 16 orang pemusik. Kuda yang bisa menari itu disebut Kuda renggong, atau bisa ngaronggeng yang dalam bahasa Indonesia berarti “menari”.

Kuda renggong adalah kesenian asli kabupaten Sumedang, inovasi Eyang Sipan pada waktu pemerintahan Pangeran Suria Atmaja yang dijuluki Pangeran Mekkah diakhir abad ke-19 (1882-1919). Tidak semua kuda bisa dilatih atau dijadikan kuda renggong. Perlu dilihat dulu karakter dan bakatnya saat kuda berusia kurang lebih 20 bulan. Apabila dinilai punya bakat, pelatihan bisa dilanjutkan. Pelatihan kuda biasanya dilakukan 3 kali dalam sehari, yaitu pagi, siang, sore, kadang hingga malam.  Setelah 3 hingga 5 bulan pelatihan, kuda sudah dapat melakukan pertunjukkan.

Kelanjutan dari kuda renggong adalah kuda silat yang bisa melakukan atraksi berdiri, memberi hormat dan bisa  berbaring. Namun tidak semua kuda renggong punya bakat menjadi Kuda Silat. Kuda silat inovasi seniman kuda bernama Wangkin Kiwari ini perkembangannya dibesarkan oleh Kabupaten Majalengka dan kabupaten Bandung.

Kesenian kuda renggong utamanya dipertunjukkan saat khitanan anak atau disebut KariaanAnak-anak yang akan dikhitan menunggang kuda dan diarak keliling desa. Tetapi dalam perkembangannya dapat digunakan juga untuk menyambut pengantin. Bahkan saat ini dipakai untuk menjemput tamu kehormatan yang datang ke Kabupaten Sumedang. Jumlah kuda yang diarak tergantung dari kebutuhan dan kehendak pemangku hajat.  Diakhir arak-arakan biasanya dipertontonkan Kuda Silat. 

Kini, kesenian kuda renggong yang berada dibawah Yayasan Kuda Renggong Sumedang (Yaskures) Wangkin dan sudah menyebar di 22 kecamatan Kabupaten Sumedang. Jumlah  kudanya sudah mencapai 475 ekor, pemusiknya 105 rombongan dan penari 27 rombongan. Dalam rangka mengukuhkan situs budaya di Sumedang, menurut Asep Dedi (40 tahun) pendiri Yaskures, pada 27 November 2019 akan digelar Festival Kuda Renggong “Malam Eyang Sipan”.