Lebih Dekat dengan Kehidupan Pengembara Laut Suku Bajo

Suku Bajo terkenal dengan kehebatannya dalam menyelam di dalam laut tanpa bantuan alat menyelam dan hanya dengan satu kali tarikan nafas. Belum lagi keramahan masyarakat Suku Bajo yang pasti akan membuat Sobat Pesona merasa sangat diterima jika berkunjung ke sini.

Sampailah perjalanan saya ke Wakatobi. Saya ke Wakatobi untuk datang ke kampung Mola atau banyak yang bilang Desa Mola Bajo, tempat tinggal Suku Bajo. Desa ini menjadi salah satuh destinasi yang harus Sobat Pesona kunjungi, lho!  Sudah banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang ramai mengunjungi desa ini untuk melihat dan berkenalan langsung  dengan Suku Bajo. Rumah-rumah seperti tertancap di laut dengan rapih dan memanjang menyusuri pantai, menjadi pemandangan yang khas untuk desa ini.  Masa Sobat Pesona enggak penasaran?

Suku Baju terkenal dengan julukan Pengembara laut. Dengan bermodalkan perahu kuno dan kacamata renang yang terbuat dari kayu, tanpa peralatan menyelam modern, mereka bisa menyelam hingga sampai 70 meter dengan sekali tarikan napas. Suku Bajo juga disebut sebagai “Orang Laut”, “Sama Bajau” atau lebih sering dikenal dengan manusia “Gipsy Sea”.

Sebagian kecil suku ini tersebar di Filipina dan Malaysia dan sebagian besar ada di perairan Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Nusa Tenggara (Lombok, Flores, Sumba, Sumbawa), Jambi, dan Riau. Dari banyaknya tempat yang pernah mereka tinggali, dapat disimpulkan bahwa Suku Bajo memang dulunya hidup dengan cara nomaden.

Lantas mengapa masyarakat Suku Baju punya kemampuan super seperti ini? Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa limpa mereka lebih besar 50% dari manusia biasa pada umumnya. Menjadikan Suku Bajo bisa bertahan di dalam air laut lebih lama dengan sekali nafas. Selain itu, mereka juga tidak butuh kompas atau peta saat mencari ikan di tengah laut. Mereka hanya berpatok dengan membaca bintang di langit yang menjadi keahlian orang Bajo. Seperti bintang pupuru alias bintang tujuh, kalajengking, bintang layang-layang, dan bintang timur.  Bintang ini sebagai penunjuk arah dan waktu, keadaan cuaca, serta penanda keberadaan ikan bagi orang Bajo.

Meskipun kini banyak yang sudah menetap di satu tempat, kehidupan Suku Bajo tetap tidak bisa dilepaskan dari laut. Bahkan bisa dibilang mereka masih jauh lebih nyaman berada di air daripada daratan. Suku Bajo juga sudah mengajarkan anak-anaknya untuk bisa bertahan hidup di lautan sejak usia balita.

Orang Bajo berprofesi sebagai nelayan. Keahlian mereka sebagai penjelajah laut terjadi secara turun-temurun yang sudah menjadi tradisi mereka.  Sejak kecil, anak-anak Suku Bajo sudah diajarkan teknik memancing dan menyelam oleh orang tuanya. Mereka menyelam, mencari ikan, gurita, atau makhluk dalam air lainnya.

Orang-orang Suku Bajo juga dikenal ramah terhadap pengunjung. Keramahan anak-anak hingga orang dewasa Suku Bajo tidak akan terlupakan ketika mendatangi suku ini, bahkan  anak-anak Suku Bajo tidak ragu mengajak kita untuk berfoto bareng dan para ibu-ibu Suku Bajo pun menwarkan untuk memakaikan bedak beras di muka kita.

Tidak hanya itu saja, bahkan ibu-ibu Suku Bajo mengajak pendatang atau wisatawan untuk memasak komak dengan cara tradisional dan membersihkan perahu kayu dengan api.  Perjalanan kali ini menjadi hangat dan saya merasakan seperti menambah keluarga baru Suku Bajo.