Wisata Kuliner Makassar, Coba Coto, Pisang Epe dan Jagung Putul

Baru saat saya melakukan kunjungan kedua ke Makassar, akhirnya bisa mencicipi sejumlah kuliner khas yang ada di sini. Saya memulai wisata kuliner ini dengan memesan coto Makassar hingga mencicipi pisang epe di Pantai Losari.

Selalu ada kata “pertama” untuk sebuah hal. Hal di sini berarti mencicipi sebuah makanan. Dan pada kunjungan kedua kalinya ke Makassar, barulah saya mencicipi coto Makassar di Jalan Nusantara yang termahsyur itu.

Saya memesan coto daging. Tak berapa lama, semangkuk kecil coto tiba di meja. Ya, walapun kecil, ternyata isinya cukup banyak, dengan potongan daging yang besar-besar dan menggugah. Rasanya memang lezat. dagingnya lembut dan tak bau. Paling enak disantap dengan dengan buras, lontong khas Makassar.

Selain coto Makassar, yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Makassar adalah pisang epe di kawasan Pantai Losari. Datanglah pada malam hari untuk menikmati pisang epe ditemani hangatnya saraba, minuman serupa bandrek khas Makassar.

Ada satu kedai pisang epe yang terkenal di Pantai Losari. Bisa dilihat dari pelanggannya tak pernah sepi duduk memadati kursi yang disusun di pinggir jalan. Pisang yang dipakai oleh penjual tak terlalu matang, itu yang saya suka dari pisang epe di sini. Sayangnya, sarabanya terlalu manis, mungkin berikutnya harus diminta untuk dikurangi gulanya.

Bicara kuliner Makassar juga tak bisa jauh-jauh dari hidangan laut, misalnya sup kepala ikan kakap yang disebut palumara pappanyukki. Rasanya asam-asam segar karena menggunakan belimbing wuluh. Selama tiga malam di Makassar, saya puas mencoba ikan kuah kuning di beberapa tempat.

Tapi, makanan lain yang baru pertama saya coba adalah jagung pulut. Disebut juga jagung ketan karena bulirnya yang berwarna hampir putih dan teksturnya yang pulen. Jajanan ini tidak berada persis di Makassar, tetapi di Kabupaten Takalar.

Memasuki Takalar, di sepanjang jalan terlihat warung-warung tenda dengan jajaran ember besar berwarna-warni. Isinya adalah jagung pulut rebus siap santap. Begitu duduk di salah satu warung, sang penjual gesit membersihkan jagung-jagung dan menaruhnya di piring. Ditambah mangkuk kecil berisi garam cabe dan jeruk nipis.

Ternyata, rasanya memang lebih enak dicocol dengan garam. Sebab, jagung ini cenderung hambar, walaupun dagingnya padat dan mengenyangkan. Sepiring berisi delapan buah jagung harganya hanya sepuluh ribu rupiah, sangat murah. Jagung ini memang merupakan varietas jagung khas Takalar.