Peninggalan Zaman Megalitikum di Desa Gomo Nias

Batu Megalith di Desa Gomo adalah arca-arca batu berusia ratusan tahun yang terletak di Nias. Batu megalith ini bisa dijumpai di beberapa situs peninggalan atau bahkan halaman-halaman rumah penduduk.


Desa Gomo adalah sebuah daerah di Kabupaten Nias yang sering dijadikan tempat upacara adat Boronadu atau penyelesaian konflik pada kelompok yang sedang bermusuhan. Dahulu kala, beberapa kelompok suku di Nias sering berperang. Kemudian muncullah ritual Boronadu yang berfungsi untuk mengalihkan konflik kelompok kepada patung-patung yang ada di sana. Patung-patung ini lalu dilemparkan ke sungai sebagai pertanda masalah sudah selesai.

Peninggalan Batu megalit di Desa Gomo, merupakan wujud peninggalan kebudayaan seni rupa nenek moyang pada zaman dahulu. Patung-patung tersebut diciptakan dengan menggunakan berbagai media, antara lain: Kayu, logam maupun batu-batuan.

Batu Megalith di Desa Gomo dilestarikan oleh pemerintahan setempat dengan membangun situs-situs. Salah satu situs yang melestarikan batu megalit Gomo adalah Situs Megalitik Boronadu. Situs ini diyakini sebagai asal mulanya para leluhur masyarakat Nias yang berasal dari langit atau Ono Niha. Batuan megalit Boronadu diyakini sudah berusia antara 2.500 hingga 5.000 tahun.

Selain Situs Megalitik Boronadu, ada juga Situs Megalit Tetegewo yang berada di Desa Tetegewo, Sub-distrik Sidua Ori. Di sini, kita bisa melihat rumah dan peradaban megalitikum yang masih hidup. Situs Megalitikum Tetegewo terdiri atas batu-batu berbagai bentuk dan ukuran. Batuan megalit itu ada yang menyerupai tugu, bundar, dan persegi. Batu megalit ini diyakini berasal dari Sungai Baho yang terletak 3 km dari lokasi situs.

Terdapat beberapa bentuk batuan di Situs Tetehowo ini. Ada batuan beku, batuan bundar, dan batuan persegi. Bentuk batuan beku menyerupai tugu, menandakan pernah ada pesta besar-besaran di tempat ini. Hal ini diperkuat dengan adanya batu berbentuk bundar. Batu bundar diyakini dulunya digunakan untuk menari saat pesta. Sementara itu batuan terakhir batuan berbentuk persegi merupakan singgasana raja.


Foto: Jaka Thariq