Pacuan Kuda Penyatu Masyarakat Gayo

Tradisi berusia ratusan tahun untuk menyambut musim panen dan menyatukan masyarakat Dataran Tinggi Gayo. Kini jadi daya tarik wisata Takengon dan Aceh Tengah yang eksotik dan mendebarkan.

Salah satu yang menjadikan Kota Takengon sangat menarik untuk dikunjungi adalah tradisi budayanya. Pacuan kuda, kegiatan ini memang tak banyak dilakukan oleh wilayah-wilayah lain di Indonesia, hanya daerah tertentu saja punya tradisi seperti ini. Takengon yang terletak di wilayah Aceh Gayo pun menjadi salah satu daerah yang masih menjaga tradisi adanya sampai saat ini.

Acara tahunan ini selalu diparati ribuan orang setiap kali diadakan, menandingkan kuda-kuda endemik dari tanah Gayo. Sebenarnya kegiatan ini bertujuan untuk mempersatukan masyarakat di Dataran Tinggi Gayo atau Gayo Highland.


Sambut Musim Panen
Tradisi pacuan kuda ini sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu, bahkan sebelum Belanda menginjak Tanah Air. Tradisi pacuan kuda ini awalnya diselenggarakan dalam rangka menyambut musim panen. Walaupun bagian dari kegiatan adat namun tetap menggunakan standar serius. Mulai dari kesiapan kuda, perlengkapan hingga arena pacuan itu sendiri.

Urusan joki biasanya adalah pria berusia antar 15 sampai dengan 25 tahun dengan umur kuda 1 -5 tahun. Hanya ada perlombaan satu putaran bagi kuda dibawah 5 tahun dan 2 putaran untuk yang 5 tahun keatas. Pemenang lomba juga akan banyak mendapat keuntungan, mulai dati hadiah juara, status sosial hingga melunjaknya harga kuda itu sendiri.

Untuk menyaksikan secara langsung, pacuan kuda ini berlokasi di Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh. Kini acara tersebut kerap dilaksanakan untuk memperingati hari-hari besar seperti Hari Kemerdekaan Indonesia, Tahun Baru atau event khusus seperti Gayo Alas Mountain International Festival yang digelar pertengahan September ini.

Foto : Chalid Nasution