Festival Lima Gunung, Wujud Cinta Warga untuk Seni dan Budaya

Festival Lima Gunung adalah pesta budaya yang diadakan oleh para penggerak seni dan budaya yang ada di Lima Gunung. Tujuan utamanya adalah gerakan budaya desa dan kegembiraan dengan pementasan seni dari berbagai daerah.

Suara tabuhan gamelan dan rampak musik kontemporer  terdengar nyaring. Ratusan orang memenuhi latar rumah yang sudah dihiasi burung garuda di Padepokan Tjipta Boedaja Dusun Tutup Ngisor, Kabupaten Magelang, di kawasan barat Gunung Merapi. Mobil-mobil dari luar kota parkir di tepian jalan, dan kendaraan bermotor berjajar rapi diparkiran. Pengunjung membludak, sebab acara Festival Lima Gunung sudah di mulai.

Festival Lima Gunung adalah pesta budaya yang diadakan oleh para penggerak seni dan budaya yang ada di Lima Gunung. Nama lima gunung yang menjadi sebutan untuk komunitas ini merujuk pada Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan Pegununan Monoreh, yang wilayahnya masuk kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Festival ini melibatkan banyak kalangan anak muda hingga kepala dusun Tutup Ngisor. Uniknya, lagi tidak ada yang membayar dan dibayar untuk acara ini. Sebab, tujuan utamanya adalah gerakan budaya desa dan kegembiraan.

Festival tahunan berbasis nilai-nilai budaya gunung dan masyarakat desa ini memiliki tak kurang dari 77 agenda pementasan kesenian yang terbagi menjadi pementasan tarian, musik, puisi, performa, kenduri dan kirab budaya. Seluruh penampilan mengusung tema “Gunung Lumbung Budaya". Tema ini diambil karena budaya yang masih bertahan berada di pedesaan.  Tidak hanya itu saja, Festival Lima Gunung disebut juga bukan soal bagus tidaknya suatu pementasan. Akan tetapi, selalu saja membuat penonton baik dari desa-desa maupun tamu luar kota dan mancanegara, secara natural menjadi bagian tak terpisahkan dari festival ini.

Selain acara yang unik dan meriah, pengisi acara kesenian Lima Gunung tidak hanya dari Pulau Jawa saja, bahkan bisa di bilang dari Sabang sampai Merauke. Beberapa seniman asal luar negeri, seperti dari Jepang misalnya, juga menampilkan penampilan terbaik mereka dalam festival desa ini.

Para pegiat utama Komunitas Lima Gunung selama bertahun-tahun setia menghadirkan festivalnya yang tanpa sponsor.  Festival ini memiliki kekuatan desa dengan nilai-nilai kehidupan masyarakatnya. Penyelenggaraan acara ini juga dilakukan dengan kekuatan kebersamaan sesuai dengan kekuatan desa dalam slogan “Aku duwe opo, kamu duwe opo di dadekno siji”, yang dalam Bahasa Indonesia artinya, “Aku punya apa, kamu punya apa di jadikan satu”.

Festival Lima Gunung tahun ini tetap hadir sebagai wujud gerakan kebudayaan desa yang dibangun bertahun-tahun oleh para petinggi komunitas.  Dan lokasi Festival Lima Gunung setiap tahunnya pasti berpindah-pindah di desa yang menjadi basis komunitas ini. Bagaimana? Mau ikut di acara ini atau jadi list perjalanan Sobat Pesona tahun depan? Festival ini diadakan sekitar awal Juni dan berlangsung selama beberapa hari. Jadi, cari terus info terbaru tentang Festival Lima Gunung dan catat tanggalnya agar tidak kelewatan.