Keindahan Pulau Padar yang Tak Akan Pernah Pudar

Labuan Bajo telah bersolek. Jalan sepanjang pelabuhan yang dulu penuh debu akibat proses perbaikan, kini telah aman bagi kendaraan dan nyaman bagi pejalan. Berbagai jenis akomodasi atau penginapan pun tersedia. Labuan Bajo semakin siap menjadi gerbang untuk menyapa dan menyambut wisatawan yang ingin bersantai dan juga berpetualang.

Pada 2015 adalah kunjungan pertama saya ke Labuan Bajo. Kota kecil yang menjadi pintu untuk melihat satu-satunya reptil peninggalan zaman purba yaitu komodo. Identik sebagai kota pelabuhan dengan aktivitas nelayan, Labuan Bajo menawarkan wisata berlayar dengan kapal untuk mengunjungi beragam destinasi dalam ruang lingkup Taman Nasional Komodo.

Saya belum lupa betapa sulitnya mendapatkan transportasi untuk melakukan island hopping kala itu. Kapal-kapal yang menyediakan jasa live on board pun masih didominasi kategori mewah. Saya sampai-sampai harus bergabung dengan open trip via tur operator yang berbasis di Lombok demi mendapatkan pengalaman berlayar dengan harga yang cukup bersahabat di kantong. Walaupun hanya dapat mengunjungi Gili Lawa, Pulau Rinca, Pulau Kalong tanpa ada ke Pulau Padar yang menjadi impian, saya sangat menikmati pengalaman pertama saya hidup terapung di atas kapal selama dua malam mengitari Taman Nasional Komodo.

Empat tahun berselang, saya kembali lagi ke Labuan Bajo, wajahnya tampak begitu berbeda. Labuan Bajo telah bersolek. Jalan sepanjang pelabuhan yang dulu penuh debu akibat proses perbaikan, kini telah aman bagi kendaraan dan nyaman bagi pejalan. Terlihat juga bangunan-bangunan kokoh yang tingginya telah melebihi pohon kelapa. Berbagai jenis akomodasi atau penginapan pun tersedia, mulai dari level backpacker hingga keberadaan resort bintang lima. Labuan Bajo semakin siap menjadi gerbang untuk menyapa dan menyambut wisatawan yang ingin bersantai dan juga berpetualang.

Ketika malam menjelang, saya semakin takjub melihat taburan lampu-lampu dari kapal wisata yang sedang berlabuh diantara pesisir kota dan pulau Bajo. Para penyedia tur semakin menjamur menawarkan jasa berlayar harian, akhir minggu hingga boat charter dengan kisaran harga dari kategori murah hingga mewah. Fakta-fakta tersebut semakin mengukuhkan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang dilirik oleh berbagai kalangan wisatawan, baik dalam negeri maupun mancanegara.

Saya sendiri kembali berlayar menggunakan kapal semi phinisi dengan rute yang lebih variatif, seperti Pink Beach dan Manta Point. Pink Beach menyuguhkan pengalaman bersantai dan berenang diantara hamparan pasir berwarna merah muda. Sementara Manta Point adalah spot untuk melakukan kegiatan snorkeling dengan potensi spesies ikan pari jenis manta. Pulau Padar pun juga ada dalam daftar itinerary. Perjalanan yang sungguh menuntaskan rasa penasaran saya terhadap Pulau Padar.

Pulau Padar yang memiliki luas sekitar 14,09 kilometer persegi adalah pulau dengan perbukitan dilengkapi pesisir pantai dengan butiran pasir berwarna hitam, putih, dan merah muda. Untuk melihat ketiga warna dari pesisir pantai tersebut dalam satu pandangan mata, maka kita harus melakukan pendakian sekitar 20-30 menit ke puncak bukit. Dua waktu yang paling direkomendasikan untuk mendaki di Pulau Padar adalah pagi hari untuk menyaksikan matahari terbit dan sore hari menjelang matahari tenggelam. Waktu-waktu tersebut juga tepat bila berniat untuk mengabadikan momen dalam bentuk video atau foto sebab cahaya matahari tidak terlalu kuat dan berlebihan.