Para Penambang Belerang di Antara Indahnya Kawah Ijen

Setiap dini hari, ratusan laki-laki berjalan kaki menaiki Gunung Ijen, lalu turun menuju kawah untuk menambang belerang. Ini jelas bukan pekerjaan mudah dan tanpa risiko.

Keindahan Kawah Ijen di Kabupaten Banyuwangi sudah melegenda. Tak hanya di dalam negeri, Kawah Ijen juga terkenal sampai ke dunia luar. Namun, tak semua orang tahu kisah lain yang ada di Kawah Ijen. Kisah para penambang belerang.

Setiap dini hari, ratusan laki-laki berjalan kaki menaiki Gunung Ijen, lalu turun menuju kawah untuk menambang belerang. Ini jelas bukan pekerjaan mudah dan tanpa risiko. Untuk sampai ke puncak Gunung Ijen, butuh waktu dua jam dengan berjalan kaki. Terkadang, perjalanan jadi agak sedikit sulit karena mereka harus berbagi jalan dengan para wisatawan.

Kepulan asap belerang yang menyengat bisa membuat mata menjadi perih dan sesak napas. Nyawa jadi taruhan pekerjaan ini. Namun, para penambang ini seolah tidak merasakan apa-apa. Mereka datang dengan membawa linggis dan memikul keranjang bambu untuk membawa belerang.

Mengapa mereka harus berangkat saat dini hari? Dini hari merupakan waktu yang tepat karena udara dari kawah yang mungkin mengandung racun H2S atau hidrogen sulfida  belum mengarah ke lokasi penambang. Para penambang ini sudah mengangkut bongkahan belerang yang mereka dapatkan sebelum pukul tujuh pagi.

Perjalanan mereka jelas lebih berat dibandingkan saat berangkat. Dari kosong, keranjang mereka berubah menjadi penuh dengan bongkahan belerang yang beranya bisa bisa mencapai 80 kilogram lebih. Untungnya, dalam beberapa tahun terakhir ini sudah ada gerobak beroda yang sangat mengurangi beban para penambang saat mengangkut belerang.

Belerang-belerang ini dibawa ke penampung dan langsung dibayar. Para penambang ini bisa mendapatkan uang sekitar Rp 200.000 dalam sehari. Memang jumlahnya berlipat dibandingkan kerja seharian di kebun. Namun, risiko yang dihadapi juga tidaklah kecil.

Belerang-belerang ini selanjutnya diolah untuk beberapa keperluan kehidupan sehari-hari. Sobat Pesna pasti tidak asing dengan sabun mandi atau sabun muka yang mengandung belerang. Belerang juga dipakai sebagai pemutih gula. Di kawasan Gunung Ijen, bisa ditemukan berbagai cenderamata berbahan belerang berbentuk pohon, kura-kura dan lainnya.