Rumah Pengasingan dan Sepucuk Surat Cinta

Di Rumah Pengasingan Soekarno di Kota Bengkulu, tempat tidur, meja dan buku-buku yang digunakan Sang Proklamator masih sama seperti saat ia diasingkan dulu. Surat cintanya pun, masih bisa terbaca dengan jelas.

Pada suatu hari di bulan Februari 1938, Ir. Soekarno tiba di Bengkulu. Tak berapa lama setelah itu, istrinya, Inggit Garnasih, dan Ratna Djuami, anak angkatnya, menyusul ke Bengkulu. Sebelumnya, ia beserta keluarga baru keluar dari tempat pembuangan di Tanah Flores Nusa tenggara Timur.

Dalam buku Cindy Adams, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, diceritakan bahwa Bung Karno terserang malaria di Ende sehingga membuat Thamrin, salah satu sahabat Bung Karno khawatir akan keselamatannya dan menuntut agar Bung Karno segera di pindahkan dari Flores.


Rumah Tjang Tjeng Kwat
Memindahkan Soekarno artinya harus mencari kota lain yang susah diakses dan rakyatnya saat itu tidak berpolitik, sehingga Bung Karno tidak dapat membangkitkan tantangan dan gairah politik pada masyarakat sekitar. 

Khawatir akan disalahkan jika membiarkan Soekarno terlantar di Ende, Den Haag pun serta merta mengeluarkan keputusan untuk memindahkan Bung Karno ke Bengkulu. Bengkulu masa itu adalah daerah yang sulit diakses, terpencil di Pantai Barat Sumatera, dan inilah tanah pembuangan Sang Proklamator itu selanjutnya.

Di Tanah Pembuangan ini Bung Karno ditempatkan di sebuah rumah milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat, rumah yang sekarang lebih dikenal dengan Rumah Pengasingan Bung Karno. Di rumah yang terletak di Kelurahan Anggut, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu ini Soekarno kemudian mengenal Fatmawati, gadis cantik dari kota Bengkulu.

Rumah pengasingan yang didiami Bung Karno sejak 1928 hingga tahun 1942 ini sekarang menjadi objek wisata sejarah Bengkulu. Bahkan menjadi nominasi situs wisata sejarah terpopuler oleh Anugrah Pesona Indonesia (API) 2018 yang digelar Kementerian Pariwisata.

Bekas-bekas pengasingan Bung Karno dulu, dijadikan objek wisata. Dari ranjang besi tempat tidur Bung Karno, ratusan eksemplar buku berbahasa Belanda di kamar dan ruang tamu, termasuk surat cinta Soekarno untuk Fatmawati. Surat cinta yang tak lekang oleh waktu...