Mengenal Sejarah Jalan Asia Afrika di Bandung

Sebelum Konferensi Asia Afrika dilaksanakan, jalan bersejarah ini bernama Grote Postweg atau disebut juga Jalan Raya Pos. Merupakan ruas jalan yang dibangun oleh Daendels. Di awal tahun 1955 perubahan pun terjadi dengan dibangunnya museum bersejarah Konferensi Asia Afrika.

Jalan Asia Afrika di Bandung memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendirian Kota Kembang ini. Karena pada saat itu, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dari Belanda menancapkan tongkatnya saat memerintahkan pendirian kota ini, yang diabadikan menjadi tugu Bandung Nol Kilometer.

Sebelum Konferensi Asia Afrika dilaksanakan, jalan bersejarah ini bernama Grote Postweg atau disebut juga Jalan Raya Pos. Merupakan ruas jalan yang dibangun oleh Daendels yang membentang dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1.000 km, serta memakan korban sampai 30.000 jiwa dalam proses pembangunannya.

Pengorbanan tersebut tidak sia-sia, ada banyak hal muncul karena terciptanya Jalan Groote Postweg ini. Di antaranya lahirlah kota Bandung Modern. Akhirnya nama Jalan Raya Pos kemudian berganti menjadi Jalan Asia Afrika setelah dilaksanakan Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka yang berada di jalan ini.

Pada saat itu, suasana jalan tersebut hanya ramai ketika berlangsungnya pertemuan Konferensi Asia Afrika. Tidak seperti sekarang banyak yang mengunjungi setiap harinya. Di awal tahun 1955 perubahan pun terjadi dengan dibangunnya museum bersejarah Konferensi Asia Afrika. Sebelumnya di tahun 1895, museum tersebut bernama Societeit Concordia. Tempat berlangsungnya pertemuan yang beranggotakan orang-orang Eropa, terutama Belanda yang berdomisili di Bandung.


Jalan Asia Afrika Sebagai Titik Nol Kilometer
Bandung yang kamu kenal sekarang ini konon dipindahkan dari lokasi sebelumnya Dayeuh Kolot (dayeuh = kota, kolot = tua), atas permintaan Daendles kepada bupati Bandung Wiranatakusumah II.

Mengapa pusat kota Bandung dipindahkan? Hasil blueprint menjelaskan bahwa pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata berselisih jarak sekitar 11 km dari kabupaten Bandung sekitar dayeuh kolot. Namun Daendles berpikir, sebuah kota akan maju, jika kota tersebut mudah diakses.

Setelah berkali-kali pindah mencari lokasi yang strategis, Wiranatakusumah II memutuskan sebuah lokasi yang kamu kenal sebagai alun-alun kota Bandung. Sekarang sebagai ibukota kabupaten Bandung yang baru. Dari sinilah titik kota Bandung berkembang ke segala arah sehingga mencapai ukuran seperti sekarang.

Bukti berkembangnya kota Bandung ini, silahkan jalan-jalan ke jalan Asia Afrika di depan kantor P.U. Akan ditemukan sebuah patok beton kecil yang menandakan titik 0 km kota Bandung.

Jalan bersejarah ini juga disebut titik 0 Kilometer Bandung. Titik nol kerap dikaitkan dengan awal mula perkembangan kota. Pada saat itu pemindahan pemerintahan kota Bandung yang di wilayah Krapyak atau Dayeuh Kolot dipindahkan ke jalan ini pada tahun 1810. Jalan tertua di kota Bandung ini juga dekat dengan Sungai Cikapundung sebagai sumber air pembangunan kota.


Foto: Jaka Thariq