Ritual Berkabung, Asyura Di Pariaman

Tiap awal Muharam, masyarakat Kota Pariaman merayakan Asyura lewat sebuah ritual perkabungan yang dipelihara dan diwariskan turun-temurun.

Kereta api wisata yang berangkat dari Padang tiba pagi-pagi sekali di stasiun Kota Pariaman. Setiap hari kereta datang membawa penumpang dari Kota Padang, atau kadang-kadang hanya membawa pedagang yang akan menggelar dagangannya di Pariaman. Sore harinya kereta yang sama akan kembali ke Padang, meninggalkan stasiun kereta api yang akan lindap dibuai angin pantai barat Bus-bus dan mobil pribadi setiap harinya juga bergiliran datang dengan rutin dari Padang, dari Bukittinggi, dari Padangpajang.

Pagi-pagi sekali pula, pasar kota telah terkembang mengundang keramaian seperti gula mengundang semut. Pasar kota itu berdenyut seperti nadi manusia. Menjelang sore, pasar itu akan diganti dengan barisan panjang jajanan kuliner di kiri dan kanan jalan yang lurus besar.


Tabuik, Karbala di Tanah Minang
Tetapi di minggu awal bulan Muharam kondisinya berbeda. Kota kecil di Pantai Barat Sumatera ini menjadi penuh sesak. Dalam cahaya remang bohlam 5 watt, anak-anak bercanda dalam ketukan-ketukan gendang tassa, suaranya seperti genderang perang yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Biar mereka tahu, seperti inilah ketukan jantung orang-orang di medan Karbala ketika itu,” kata orang tua. Anak-anak itu terus memukul tassa dalam guyuran keringat. Beberapa tetua dari kaum Tuanku Pariaman mengambil tanah yang dilapisi kafan. Kain putih ini menyimbolkan penghormatan terhadap sebuah kematian, kematian Imam Husein di Perang Karbala

Dari 1 hingga 10 Muharam, mata orang-orang di Kota Pariaman bagai tak bisa lelap. Jalanan dan pusat-pusat kuliner yang menjamur banyaknya. Semua ritual telah dilaksanakan dan badan tabuik disatukan. Dan dua buah tabuik kini siap diarak.

Lelaki-lelaki berbadan gempal itu memutarnya melawan arah jarum jam. Seakan hendak memutar waktu kembali ke masa silam, 14 abad lalu, ketika kepala Husein dan badannya yang telah terpisah diarak pendukungnya dengan air mata menggenang, dengan amuk kesedihan yang dipelihara kian dalam, jauh ke ceruk jiwa.