Pesona Tari Kecak di Ujung Uluwatu

Komplek Pura Uluwatu merupakan salah satu tujuan terpopuler di Bali. Semua brosur paket perjalanan menawarkan pengalaman menikmati matahari terbenam di sana. Dan pertunjukan Tari Kecak merupakan atraksi utamanya. Jelang senja, penonton duduk memadati area pertunjukan yang berbentuk amfiteater.

"Tolong sampaikan agar cerita ini tidak usah dibaca karena membuang waktu, pikiran dan tenaga. Sungguh hanya suatu omong kosong belaka. Mohon maaf sekali lagi untuk permintaan tolong ini. Maaf, beribu-ribu maaf.”
-Togog

Saya selalu menganggap Seno Gumira Ajidarma titisan Walmiki. Bahkan, mungkin mengungguli Walmiki yang lebih dulu menulis Ramayana pada abad kelima. Seno dilahirkan jauh setelahnya—beruntunglah ia, sehingga punya kesempatan untuk merangkai kembali kisah cinta Rama dan Shinta sesuka hati dalam karyanya yang berjudul Kitab Omong Kosong. 

Pada pertengahan 2009, saya menginjak Bali kali pertama. Sebuah pengalaman yang asyik dikenang-kenang hingga bertahun-tahun kemudian. Berada di tempat yang disebut-sebut Pulau Dewata. Saya juga ke Uluwatu, titik paling selatan di Pulau Bali yang terkenal dengan pura di antara hutan, rumah para wanara.

Saya teringat Hanoman dan kisah masa kecilnya ketika belajar terbang dari Bhatara Bayu—tanpa tahu bahwa ia adalah anaknya. Monyet-monyet kecil berlompatan di ranting. Sesekali menghampiri pengunjung yang kian ramai.

Komplek Pura Uluwatu merupakan salah satu tujuan terpopuler di Bali. Semua brosur paket perjalanan menawarkan pengalaman menikmati matahari terbenam di sana. Dan pertunjukan Tari Kecak merupakan atraksi utamanya. Jelang senja, penonton duduk memadati area pertunjukan yang berbentuk amfiteater.

Kesan pertama menonton Tari Kecak, tari tradisional Bali yang identik dengan pelafalan “cak-cak”, adalah kagum—tidak melibatkan instrumen musik sama sekali! Pertunjukan semakin dramatis dengan langit jingga yang melatari. Tak lama setelah matahari membakar langit, Hanoman pun dibakar oleh musuhnya.

Begitulah, hingga kali ini rasanya sudah lebih dari lima kali saya menyaksikan pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu. Penonton kian ramai, memenuhi tempat duduk hingga anak tangga. Udara kian pengap. Kepala-kepala menyembul menghalangi pandangan dengan layar telepon genggam sebesar papan tulis.

Pun demikian, seperti yang saya duga, pertunjukan Tari Kecak tetap menampilkan perpaduan sempurna antara seni tari dan seni lukis alam di latarnya. Tari Kecak dengan lakon pewayangan konon diciptakan oleh Wayan Limbak sekitar tahun 1930-an.

Saat itu ia membawa kelompok tarinya berkeliling dunia untuk memperkenalkan Tari Kecak. Ada yang menyebutkan awalnya Kecak merupakan Tari Sanghyang, tarian sakral  yang dalam prosesinya menghadirkan roh leluhur ke dalam tubuh sang penari. Yang kemudian menjadi penyampai pesan sang Dewata.