Gua Gajah, Peribadatan Hindu dan Budha Yang Memesona

Tempat ibadah umat Hindu dan Budha pada abad ke 10 hingga 14 Masehi, di zaman Dinasti Warnadewa. Di sebelah utara adalah lokasi persembahyangan umat Hindu, ditandai patung Ganesha dan Trilingga. Sementara di sebelah selatan terdapat susunan tiga belas stupa dengan sikap Dyani Buddha Amitabha.

Arsitektur Gua Gajah sangat mencerminkan fungsinya sebagai tempat pentirtaan atau penyucian serta tempat ibadah umat Hindu dan Budha. Gua buatan yang memesona mata ini juga memiliki berbagai ruangan yang berhiaskan stupa dan patung-patung. Karena itu ia disebut juga dengan nama Gua Pura atau Ler Gajah.

Gua Gajah ditemukan pada tahun 1923, memiliki arsitektur yang indah hingga sayang jika Sobat Pesona melewatkannya saat ke Bali. Arsitekturnya indah dan unik. Gua Gajah dibangun di kawasan batuan cadas keras yang menjorok di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatu, Kabupaten Gianyar, Bali.


Tempat Ibadah Dua Agama
Di terowongan barat Gua Gajah terdapat tujuh ceruk dengan arca-arca raksasa dan Siwa. Di ujung kedua lorong juga terdapat ceruk dengan arca Trilingga dan Ganesha. Jadi bagi Sobat Pesona yang menyukai seni patung terutama patung tradisional, Gua ini jangan sampai luput dari itinerary.  Gua ini merupakan tempat ibadah umat Hindu dan Budha pada abad ke 10 hingga 14 Masehi, di zaman Dinasti Warnadewa. Merupakan hal yang unik dan menunjukkan toleransi beragama yang tinggi.

Arsitektur Gua Gajah yang unik bisa dilihat sejak kita tiba di gerbang komplek. Dua bagian utama Komplek Gua Gajah menjelaskan tentang fungsi peribadatan dua agama berbeda, Hindu dan Budha. Di sebelah utara adalah lokasi persembahyangan umat Hindu, dengan adanya patung Ganesha dan Trilingga di dalam Gua. Sementara di sebelah selatan merupakan area Tukad Pangkung, yaitu stupa atau patung Budha yang tersusun tiga belas stupa dengan sikap Dyani Buddha Amitabha.

Walau berada di Gianyar Bali, namun keberadaan Gua Gajah justru diketahui dari Kitab Negarakertagama yang menyebutkan nama Lwa Gajah yang saat itu termasuk ke dalam daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Gua yang sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat beribadah ini juga ditetapkan sebagai warisan dunia dalam daftar tentatif oleh UNESCO.


Dipenuhi Arca dan Ukiran Indah
Dengan tinggi 6,75 meter dan lebar 8,6 meter, Gua Gajah memiliki beberapa ruangan yang masing-masing  berbeda fungsi. Mulut Gua Gajah sendiri memiliki lebar 1 meter dan tinggi 2 meter. Di depan mulut Gua terdapat relief atau pahatan wajah raksasa yang sangat menyeramkan. Dengan mata besar dan melotot yang melirik ke kanan serta mulut menganga dengan gigi yang berada tepat di atas mulut Gua, memberi kesan mengerikan bagi pengunjung.

Namun tidak semua relief dan patung di sini menyeramkan. Dinding Gua sendiri dipenuhi aneka relief berbentuk daun, hewan-hewan, serta batuan karang yang berukir. Sedangkan arca dan patung yang terdapat di komplek Gua ini ada beragam. Mulai dari bagian depan komplek Gua hingga di bagian dalamnya.

Di bagian depan komplek terdapat arca Ganesha dan Hariti. Lalu di tempat pemandian terdapat enam buah arca Widyadari yang berada di atas arca lapik teratai dan satu arca Widyadara yang berada di tengah keenam Widyadari. Di dalam Gua sendiri terdapat lebih dari tujuh ceruk, dan tiap ceruk menyimpan arca yang berbeda. Saat kita memasuki Gua, kita akan menemukan terowongan yang bercabang dua, ke arah barat dan timur dengan panjang masing-masing 13,5 m.

Untuk mencapai Gua Gajah juga tidak sulit. Lokasinya dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Tiketnya hanya Rp.30.000 per orang. Selamat berwisata dan menikmati arsitektur Gua Gajah.


Foto : Jaka Thariq