Sepotong Pulau di Ujung Indonesia Bagian Barat

Pulau Weh hanya memiliki luas 156,3 kmĀ² dan saya hanya butuh satu jam mengitarinya dari ujung terlua ke ujung lain. Meski kawasannya tak begitu luas, perlu waktu lama untuk menikmati lanskap pantai dan pemandangan bawah air di Pulau Weh.

Di satu sore saat sinar matahari paling terakhir beranjak terbenam, sepasang turis asing menyelesaikan snorkeling di pantai yang sepi di Pulau Weh. Inilah ujung barat Indonesia yang dikenal dengan nama Sabang.

Sebagai pelancong, hasrat pertama saya yang muncul untuk mengunjungi pulau yang menjadi bagian Provinsi Aceh ini adalah letaknya yang ikonik. Sesampai di sana, saya hanya perlu kurang dari satu jam untuk menjelajahi seluruh pulau seluas 156,3 km² ini. Dari ujung terluar ke ujung lain.

Daratannya cukup kecil, seluas satu kecamatan di Jawa. Meski kawasannya tak begitu luas, perlu waktu lama untuk menikmati lanskap pantai dan pemandangan bawah air di Pulau Weh.

Keindahan perairan itu membuat diving dan snorkeling menjadi kegiatan yang dipromosikan untuk menarik wisatawan. Tentu saja ketika ke Pulau Weh, saya tak boleh ketinggalan untuk datang ke Tugu Kilometer Nol, tugu yang menandai kedaulatan Republik Indonesia yang berupa kepulauan.

Saya menyewa sebuah motor untuk menelusuri pulau ini. Sempat heran melihat perilaku para pengguna motor yang membiarkan kendaraan mereka terparkir di pinggir jalan dengan kunci masih bertengger. Namun, ternyata hal itu beralasan. Siapa pula hendak mengambil tanpa ketahuan saat hendak menyeberang pulau yang menjadi satu-satunya cara untuk kabur?

Pulau ini hanya bisa dijangkau menggunakan kapal ferry atau speedboat dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan di Sabang. Sabang juga dikelilingi gugusan anak pulau lain, yaitu Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo.

Permukaan Pulau Sabang adalah perbukitan. Jalanannya berkelok tajam dan naik-turun. Di kawasan pinggir pantai, saya harus lebih berhati-hati, karena sebelumnya sempat lengah terpikat dengan pemandangan sekitarnya. Padahal ada bagian jalan berupa ngarai berujung pada jurang yang dalam.

Jangan pula heran bila berpapasan dengan mobil-mobil yang tak beredar di tempat lain di Indonesia, bahkan mungkin di kota-kota besar sekalipun. Hal itu lantaran Sabang merupakan duty free island, sehingga impor masuk barang lebih mudah.

Saat saya berkeliling pulau dalam beberapa hari, sempat berpapasan dengan patroli tentara perbatasan. Aceh memang adalah kawasan yang Islami, begitu jugalah Sabang sehingga lingkungan yang merupakan bagian dari pemukiman penduduk terdapat papan peringatan untuk berbusana sopan. Saya pun mengikuti pepatah yang menyebut, “ke mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Masyarakat Sabang sehari-hari berdialog dengan Bahasa Aceh. Kebanyakan pria menghabiskan waktu luangnya untuk bersosialisasi, duduk berlama-lama di kedai kopi. Harum kopi terbawa angin laut dari balik dinding-dinding kayu. “Jak ta jep kupi,” kata pria yang kebetulan berbarengan masuk ke kedai. Artinya “Ayo, kita ngopi”.

Pantai di Sabang tak seramai pantai lain di Aceh. Selama tiga hari di sana, saya sungguh puas berenang dan bersantai di pasirnya yang putih sembari memesan kopi. Semuanya tanpa banyak gangguan lalu-lalang pejalan. Pantai dan kopi Gayo memang perpaduan bisa membuat terlena.