Mengenal Kampung Tarung dan Peninggalan Nenek Moyang Sumba

Masyarakat Kampung Tarung menempati sebuah bukit yang diyakini sebagai tempat tinggal leluhur pertama Sumba, Sudi Wonanyoba. Tak hanya mendiami daerah tersebut, masyarakat amat menghormati leluhur dan mempertahankan apa yang telah diwariskan hingga saat ini.

Penduduk Kampung Tarung, Sumba, NTT, berdiam di sebuah bukit kecil yang diyakini sebagai tempat tinggal pertama leluhur Sumba, Sudi Wonanyoba. Dia menjaga pasangannya yang dikenal dengan nama Tarung. Tak hanya mendiami daerah tersebut, masyarakat amat menghormati leluhur dan mempertahankan apa yang telah diwariskan hingga saat ini.

Akses jalan ke Kampung Tarung cukup mudah dan bisa dilewati kendaraan roda empat. Di pintu gerbang menuju ruas jalan tersebut terdapat pos jaga, tetapi tidak ada penjaganya. Rupanya pos itu dibangun oleh pemerintah daerah setempat sebagai tempat retribusi masuk kampung adat Tarung.

Kampung Tarung hanya terdiri atas 102 rumah panggung dan hanya dihuni sekitar 400 keluarga. Di dalam satu rumah panggung yang berukuran 15 meter x 15 meter itu biasanya dihuni 3-4 keluarga.

Rumah-rumah di Kampung Tarung dibangun melingkari puncak bukit. Terdapat sebuah pelataran yang ada di tengah kampung. Di sana terdapat 17 kubur batu yang berbentuk altar. Dengan titik pusat pelataran yang berada di ujung timur, tempat matahari terbit.

Tepat di sana ada mesbah, yang terbuat dari batu yang berukuran 2 x 3 meter. Mesbah dijadikan tempat berdoa Rato atau imam adat. Dalam satu bulan, biasanya sang Rato akan berdoa tiga kali di rumah gubuk itu. Berdoa pada awal bulan, pertengahan bulan, dan juga akhir bulan.

Rato akan berdoa selama semalam suntuk di rumah itu. Meminta perlindungan, pertolongan, dan juga kesejahteraan bagi penduduk Kampung Tarung khususnya. Penduduk Sumba pada umumnya serta mengucap syukur kepada leluhur pertama Sumba, Sudi Womanyoba. Selama berdoa, maka posisi duduk Rato menghadap ke Kota Waikabubak.

Penduduk kampung adat itu diketahui masih beragama asli, yaitu Merapu. Sebuah kepercayaan asli mengenai Tuhan. Tuhan yang bertelinga besar dan bermata lebar. Serta mampu untuk mendengar segala bunyi, dan melihat segala sesuatu yang tersembunyi.

Penduduk Kampung Tarung tidak menganut agama yang diakui pemerintah, seperti halnya Kristen, Islam, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jika ada penduduk yang menganut salah satu dari agama-agama itu. Maka penduduk tersebut harus pindah dari kampung. Bergabung dengan masyarakat Sumba pada umum yang sudah memeluk agama tertentu. Jadi, kepercayaan penduduk Kampung tersebut masih menganut kepercayaan nenek moyang terdahulu.


Foto: Jaka Thariq