Wine Lakoat, Hasil Fermentasi Buah Loquat di Mollo

Memanfaatkan hasil kekayaan alam merupakan salah satu filosofi masyarakat Mollo. Tak heran, mereka berkreasi mengolah kekayaan alam menjadi makanan dan minuman yang tak bisa ditemukan di daerah lain. Salah satunya, wine Lakoat.

Buah lakoat (loquat) atau disebut juga dengan buah biwa merupakan buah kuno yang berasal dari dataran tinggi Tiongkok, dan telah tumbuh juga di Jepang sejak 1.000 tahun lalu. Buah ini merupakan salah satu buah langka yang tidak banyak dibudidayakan di Indonesia. Buah sejenis plum ini sangat cocok tumbuh di daerah dataran tinggi. Di Indonesia, buah ini banyak dibudidayakan di Tanah Karo, Sumatra Utara. Namun, tak hanya di sana, masyarakat Mollo yang hidup di kaki Gunung Mutis, Nusa Tenggara Timur, juga membudidayakannya.

Tanaman yang disebut juga dengan buah Lakoat ini banyak tumbuh di kebun maupun pekarangan warga Mollo. Buah ini biasanya berbuah hanya setahun sekali pada Januari hingga Maret. Ada tiga jenis bentuk buah lakoat yang tumbuh di Mollo, yaitu berbentuk bulat anggur dengan ukuran kecil, berbentuk buah bulat sebesar kelengkeng, dan berbentuk lonjong.


Direndam Sopi Selama 3 Bulan
Masyarakat Mollo sangat menghargai alam sebagai pemberian dari Uis Neno atau Tuhan Sang Pencipta Langit dan Bumi. Filosofi ini menggambarkan langsung bahwa orang Mollo menghargai, menghormati, serta memperlakukan alam layaknya tubuh mereka sendiri. Tak heran jika warga Mollo selalu memanfaatkan hasil kekayaan alam mereka, salah satunya buah lakoat.

Buah ini banyak diolah menjadi beragam makanan dan minuman, mulai dari selai, sambal, sirup, hingga yang paling menarik adalah dijadikan wine yang menyegarkan. Proses pembuatan wine lakoat ini cukup sederhana. Buah lakoat direndam dengan sopi, minuman tradisional daerah timur Indonesia, dan gula pasir minimal selama tiga bulan.

Setelah disimpan berbulan-bulan, minuman fermentasi dari kampung sendiri tersebut siap dinikmati. Biasanya, orang Mollo menikmati wine lakoat sembari kumpul-kumpul ditemani hidangan daging sei.


Foto: Dicky Senda