Gatot Tiwul, Pengganti Nasi Asal Gunung Kidul

Gatot tiwul sudah sejak lama jadi salah satu makanan favorit karena rasanya yang lezat, manis, dan gurih. Namanya berasal dari kesedihan, gagal total karena sulitnya menghasilkan panen. Kini jadi oleh-oleh istimewa dan kuliner andalan pengganti nasi, dirindukan saat lagi jauh dari kampung halaman.

Gatot tiwul merupakan salah satu makanan khas Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta yang paling diburu oleh masyarakat sekitar maupun wisatawan. Makanan ini berbahan dasar utama singkong, yang masih dimasak dengan cara tradisional, dan memberikan perpaduan rasa manis serta gurih yang khas.

Nama gatot merupakan singkatan dari “gagal total”, karena sulitnya menghasilkan panen atau gagal panen. Zaman dahulu, gatot tiwul merupakan makanan pokok masyarakat Gunung Kidul, yang biasanya dimakan dengan sayuran sebagai pengganti nasi.


Fermentasi Singkong Hingga Berjamur
Keadaan geografis Gunung Kidul yang dipenuhi batuan karst tandus, membuat tanaman padi tak bisa ditanami di daerah ini. Oleh karena itu, sebagian besar penduduknya menanam singkong untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka. Sejak dulu, singkong banyak diolah menjadi berbagai macam makanan, salah satunya gatot tiwul.

Proses pembuatan gatot memakan waktu yang lumayan lama. Dimulai dari proses fermentasi ketela dengan cara dijemur sampai muncul jamur. Hasil fermentasi ini berupa gaplek, dan kemudian gaplek direndam air selama dua malam hingga kenyal. Setelah itu ditiriskan, dicuci, dan diambil kulit arinya, kemudian dipotong kecil-kecil serta direndam lagi selama satu malam.

Ketela yang sudah direndam kembali tersebut kemudian dikukus selama dua jam, dan ditambahkan gula merah, garam, dan kelapa agar makanan terasa manis dan gurih. Dalam penyajiannya, untuk lebih memperenak rasanya, ditambahkan dengan parutan kelapa.

Sementara tiwul, dibuat dari tumbukan singkong kering hingga menjadi tepung singkong yang kasar. Kemudian, tepung ini diletakkan pada sebuah wadah lebar, diperciki air, dan diratakan sampai membentuk bulatan-bulatan kecil. Tepung kemudian dikukus dengan daun pisang selama 15-20 menit. Setelah itu, tiwul siap disajikan dengan tambahan parutan kelapa juga, seperti dengan gatot.

Gatot tiwul sekarang ini sering dimakan sebagai camilan atau jajanan. Bahkan, makanan ini bisa dijadikan juga sebagai oleh-oleh khas Gunung Kidul, Yogyakarta. Makanan ini juga sangat mudah ditemukan di mana pun, khususnya di Kabupaten Gunung Kidul.


Foto: Nirmala Gesuri, Seno