Mengenal Keistimewaan Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Kapal Pinisi merupakan perahu tradisional masyarakat Bugis Makassar yang mengandalkan kekuatan angin sebagai pendorong kapal. Seiring dengan perkembangan teknologi, Kapal Pinisi kini sudah ada yang menggunakan mesin motor diesel sebagai tenaga pendorongnya.

Sulawesi Selatan sangat dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak pelaut ulung. Karena itu, tidak mengherankan jika kapal kebanggaan Indonesia, Kapal Pinisi, dibuat di provinsi ini. Bahkan, terdapat kampung yang sebagian besar masyarakatnya merupakan pembuat kapal tersebut. Kampung ini disebut dengan kampung pembuat kapal.

Kampung pembuat kapal terletak di Tana Towa, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kampung ini kaya akan adat istiadat dan budaya. Tidak mengherankan jika kampung ini menjadi desa adat yang dilindungi dan tak sembarang wisatawan bisa masuk tanpa izin. Diperlukan ijin dari kepala desa untuk memasuki desa ini.


Seluk Beluk dan Pembuatan Kapal Pinisi
Kapal Pinisi merupakan perahu tradisional masyarakat Bugis Makassar yang mengandalkan kekuatan angin sebagai pendorong kapal. Seiring dengan perkembangan teknologi, Kapal Pinisi kini sudah ada yang menggunakan mesin motor diesel sebagai tenaga pendorongnya. Untuk membuat satu kapal harus dikerjakan oleh lebih dari sepuluh orang dan pengerjaannya dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan. Secara garis besar, Kapal Pinisi memiliki tiga bagian, yaitu bagian atas, bagian utama, dan bagian belakang.

Meskipun Kapal Pinisi sudah tersentuh oleh modernisasi, tapi dalam proses pembuatannya masih dilakukan ritual-ritual khusus. Ritual awal dalam pembuatan Perahu Pinisi ditandai dengan adanya pawang perahu yang memotong bagian dasar pembuatan perahu atau biasa disebut dengan Lunas. Setelah itu, disediakan sesajen berupa makanan yang manis-manis disertai pemotongan seekor ayam putih. Ritual tersebut memiliki makna dan filosofi bagi masyarakat setempat. Makanan yang manis merupakan simbol harapan agar perahu yang hendak dibuat akan mendatangkan hoki bagi pemiliknya, sementara darah ayam putih yang ditempelkan di Lunas merupakan simbol agar tidak terjadi kecelakaan saat membuat perahu. Dalam melakukan ritual ini, terdapat perhitungan yang menentukan hari baik untuk dijadikan awal proses pembuatan perahu.

Sebelum peluncuran ke laut, terdapat ritual yang diawali dengan Upacara Appasili atau tolak bala. Setelah itu, terdapat juga Upacara Ammossi, yakni penetapan pusat pada pertengahan lunas perahu yang selanjutnya akan dilakukan penarikan perahu ke laut. Dan yang terakhir adalah ritual Annyorong Lopi, yakni ritual yang dilakukan sebelum Kapal Pinisi mengarungi perairan. Kegiatan ini digelar di gelanggang kapal atau masyarakat setempat menyebutnya Batilang.

Untuk dapat menarik Perahu Pinisi ke bibir pantai, digunakan tali yang diikatkan pada haluan kapal. Untuk memudahkan penarikan perahu biasanya perahu diberi La’lere yang merupakan tumbuhan merambat yang berfungsi sebagai pelicin landasan perahu.

Dalam pembuatan kapal khas buatan rakyat Bulukumba ini sangat memperhatikan aspek budaya yang tetap dipegang teguh hingga saat ini. Hal tersebut membuat Perahu Pinisi memiliki nilai yang luar biasa di bidang keunikan bentuk dan teknologi serta kebudayaan, bahkan UNESCO menjadikan Kapal Pinisi sebagai “Warisan Takbenda” yang perlu dilestarikan.


Foto: Jaka Thariq