Melasti, Menyucikan Diri dan Lingkungan serta Bersahabat dengan Alam Sebaik Mungkin

Melasti merupakan bukti bahwa manusia tidak pernah bisa lepas dari kehidupan alam di sekitarnya demi kesucian diri mereka.

Melasti merupakan upacara persembahyangan umat Hindu yang bertujuan untuk penyucian diri dan benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya) yang dilakukan di pantai atau danau, dengan maksud menghanyutkan segala perbuatan buruk menggunakan air kehidupan (air laut). Upacara ini dilakukan menyambut hari raya Nyepi, agar umat Hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi.

Masyarakat berbondong-bondong menuju laut atau pun sumber air dengan berpakaian putih dan membawa  perlengkapan persembahyangan. Mereka biasanya mengusung pretima, benda atau patung yang disakralkan, untuk dibersihkan secara sekala dan niskala. Masyarakat Hindu percaya air sebagai sumber kehidupan, atau disebut tirta amerta. Sesaji yang dibawa sebagai simbol Trimurti, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma, serta Jumpana, singgasana Dewa Brahma.

Dalam lontar Sundarigama dan Shanghyang Aji Swamandala disebutkan, Melasti merupakan proses meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata dan manifestasi Tuhan, yang bertujuan untuk menghilangkan mala atau penderitaan. Dalam bahasa kitabnya, yang tertulis dengan bahasa Jawa Kuno menyebutkan, “Melasti ngarania ngiring prewatek dewata angayutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana”.

Ngiring prewatek dewata mempunyai arti upacara melasti hendaknya didahului dengan memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dalam perjalanan melasti. Tujuannya, agar dapat mengikuti tuntunan para dewa sebagai manifestasi Tuhan. Dengan mengikuti tuntunan Tuhan, manusia akan mendapatkan kekuatan suci untuk mengelola kehidupan di dunia.

Saat upacara ini para Dewata disimbolkan hadir mengelilingi desa, sarana pretima dengan segala abon-abon Ida Bhatara. Sehingga umat yang rumahnya dilalui iring-iringan melasti menyediakan sesaji berupa canang dan dupa sebagai pintu masuknya kepada Ida Bhatara dan kehadirannya dapat dimanfaatkan oleh umat untuk menerima wara nugraha Ida Bhatara.

Saat berkeliling desa, para pemangku berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh warga yang datang serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud kesucian.

Upacara yang dilakukan seminggu sebelum perayaan Nyepi ini juga digelar sesuai dengan tingkatan wilayah. Di Ibu kota provinsi dilakukan Upacara Tawur, tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud, tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak, tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata, di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata dan di masing-masing rumah tangga, melakukan di natar merajan (sanggah).

Upacara Melasti juga bertujuan meningkatkan kesadaran umat Hindu agar mengembalikan kelestarian alam lingkungan atau  menghilangkan sifat-sifat manusia yang merusak alam lingkungan. Tidak merusak sumber air, tanah, udara, dan lain-lain. Sehingga upacara ini mengandung muatan nilai-nilai kehidupan, dipercaya dapat meminimalisir lima sifat buruk manusia.

Masyarakat Hindu percaya, ada lima sifat buruk itu yang menjadi penyebab yang dapat membuat orang mabuk, yaitu Asmita yang berarti keegoisan, Awidya adalah kegelapan, Raga yaitu hawa nafsu, Dwesa merupakan sifat pemarah dan pendendam, dan Adhiniwesa yang merupakan rasa takut tanpa sebab. Kelima sifat ini ada dalam diri tiap individu, sehingga Melasti akan melebur semua sifat buruk manusia sebelum melaksanakan tapa brata pada Hari Raya Nyepi.

Secara sosial, upacara melasti bisa memotivasi umat secara ritual dan spiritual untuk melenyapkan penyakit-penyakit sosial, seperti kesenjangan antar kelompok, permusuhan antar golongan, wabah penyakit yang menimpa secara massal, dan lain-lain. Sehingga setelah melasti ada langkah nyata menyelesaikan berbagai penyakit sosial secara niskala yang wajib diimbangi dengan langkah sekala, misalnya melatih pemuka masyarakat memahami pengetahuan yang disebut “manajemen konflik” mendidik masyarakat mencegah konflik.

Melasti juga menuntun umat agar menghilangkan ketidakmampuannya secara individual. Ada lima hal yang membuat orang tidak mampu yaitu, Awidya (Kegelapan atau mabuk), Asmita (Egois, mementingkan diri sendiri), Raga (pengumbaran hawa nafsu), Dwesa (sifat pemarah dan pendendam), Adhiniwesa (rasa (takut tanpa sebab, yang paling mengerikan rasa takut mati). Kelima hal itu disebut klesa yang harus dihilangkan agar seseorang jangan menderita.

Upacara melasti bertujuan untuk meningkatkan kelestarian alam lingkungan, menghilangkan sifat-sifat manusia yang merusak alam lingkungan. Sedangkan menuju ke mata air bermakna mengambil sari-sari kehidupan dari tengah lautan, wujud ritual sakral untuk membangun kehidupan spiritual untuk didayagunakan mengelola hidup yang seimbang lahir batin.