Berkunjung ke Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, Ini Jalurnya

Pulau di muara Sungai Riau, Pulau Bintan ini selama berabad-abad dikenal oleh para pelaut karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang cukup banyak tersedia di Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat yang dahulu bernama Pulau Penyengat Inderasakti ini merupakan pulau kecil yang berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Tanjungpinang, pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau atau sekitar 35 km dari Pulau Batam.
Pulau ini juga pernah menjadi salah satu kandidat yang dicalonkan ke UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia pada 19 Oktober 1995.  Sebab di pulau ini  terdapat beberapa peninggalan sejarah, di antaranya adalah kompleks Istana Kantor, Masjid Raya Sultan Riau, makam-makam para raja, makam pahlawan nasional Raja Ali Haji, dan terdapat pula benteng pertahanan di Bukit Kursi.
Pada masa lalu, pulau Penyengat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam peristiwa jatuh bangunnya Imperium Melayu, sejak dikuasai Kesultanan Johor, Pahang, Siak dan Lingga, di bagian selatan Semenanjung Melayu. Peristiwa yang berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau pada 1722, hingga  diambil alih Belanda pada 1911.

Pada 1803, Pulau Penyengat menjadi pusat pertahanan dan kemudian menjadi wilayah Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga dengan Kesultanan yang berkedudukan resmi di Daik-Lingga. Baru pada 1900, Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat, sehingga sejak itu Pulau Penyengat menjadi pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu.

Pulau penyengat memiliki panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, dapat ditempuh dari dermaga penyeberangan Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal dengan pompong, kurang lebih 15 menit.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, melalui jalur Tanjung Pinang, Dermaga Penyengat, Batam, Telaga Punggur (Naik ferry Batam -Tanjung Pinang) lalu menuju Dermaga Penyengat. Jika langsung dari Jakarta, pelancong melalui rute Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Fisabilillah, Tanjung Pinang, kemudian naik taksi atau sewa kendaraan menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura lalu menyeberang dengan perahu pompong ke Pulau Penyengat.

Perjalanan menggunakan mobil pribadi atau taksi dari Tanjung Pinang ke dermaga penyeberangan bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu setengah jam. Sebelum naik perahu pompong, dari dermaga Sri Bintan Pura, pengunjung harus membeli tiket dahulu menuju Pulau Penyengat yang harganya cukup terjangkau.

Setelah di Pulau Penyengat, pengunjung bisa menikmati keindahan pulau dengan jalan kaki, sepeda atau menyewa becak motor (Bentor) dengan harga yang cukup ramah di kantong. Para pengemudi Bentor akan dengan setia mengantarkan sekaligus menjadi pemandu wisata. Harap dicatat, di pulau ini tidak terdapat angkutan umum.

Perjalanan yang tak terlalu panjang menuju pulau seluas 2 hektar ini akan disambut dengan kemegahan Masjid Sultan Riau Penyengat. Majid yang dibangun oleh Raja Khoir pada 1832, menjadi bukti sejarah arsitektur masa lalu, yang konon pembangunannya menggunakan putih telur. Kondisi arsitektur masih asli berdiri kokoh, hanya beberapa dinding yang mengelupas ditambal dan dicat ulang.

Selain bangunannya, di dalam masjid ini juga menyimpan Al Quran tulisan tangan asli, yang diperkirakan dibuat pada 1867 oleh Abdurrahman Stambul, penduduk asli Pulau Penyengat.

Asal nama Pulau Penyengat tidak tercantum dalam bukti sejarahnya. Hanya ada cerita rakyat yang menyatakan asal nama Penyengat dari nama hewan sebangsa serangga yang mempunyai sengat.

Menurut cerita,  jika para pelaut yang  melanggar pantang dan larangan ketika mengambil air di pulau ini, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa. Binatang inilah yang disebut dengan Penyengat, yang akhirnya disebut dengan Pulau Penyengat. Pada masa kekuasaan Belanda pulau ini dinamai Pulau Mars.