Menyusuri Hutan Demi Menyapa Orangutan di Bukit Lawang

Kawasan pintu masuk Bukit Lawang berupa penggalan daratan di bibir sungai. Semakin ke dalam mendekati kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang menjadi tempat konservasi orangutan.

Hutan tropis yang lebat serta sungai berair sejuk di Bukit Lawang adalah tempat keluarga orangutan Sumatera melanjutkan kisahnya. Di sini, saya melihat secara dekat upaya mempertahankan primata yang jumlahnya terus menyusut ini.

Dari awal, saya memutuskan untuk memilih trekking atau perjalanan kaki menembus hutan untuk melihat beragam satwa. Trekking ini dilakukan dengan panduan dari guide yang biayanya dihitung per hari. Pemandu mudah ditemui di restoran yang merangkap penginapan yang banyak tersebar di pinggir sungai di kawasan pintu masuk Bukit Lawang. Kegiatan ini masih didominasi turis mancanegara.

Selain menyaksikan orangutan di habitat aslinya, saya bersama turis dari Paris, Turki, dan Jepang memenuhi paru-paru dengan oksigen segar. Berjalan naik-turun lembah, memanjat di antara akar tunggang, menapaki tanah campuran pelapukan flora, menyeberang aliran sungai-sungai kecil dalam naungan rerimbunan daun menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Kawasan pintu masuk Bukit Lawang berupa penggalan daratan di bibir sungai. Di daerah ini, kios cendera mata berjajar berselang-seling dengan warung. Di bawahnya, masuk ke bagian sungai yang kering, gubuk-gubuk beratap rumbia bertiang bambu menjadi tempat wisatawan lokal menikmati keindahan alam.

Orangutan biasa ditemui setelah berjalan sekitar dua-tiga jam ke dalam rerimbunan hutan. Orangutan di alam liar perbukitan Leuser, Sumatera Utara, ini ada yang bersifat pemalu dan cenderung menghindari manusia, tapi ada juga sebagian yang agresif. Hal paling mendebarkan yang kami alami adalah saat pemandu kami justru ketakutan ketika bertemu orangutan agresif bernama Minah. Menurutnya, Minah telah sering menyerang pemandu dan pengunjung.

Di hutan ini, selain Orangutan Sumatera hidup pula kedih (presbytis thomasi), gibbon, kera ekor panjang (macaca fascicularis) dan burung rangkong (Anthracoceros malayanus). Saya juga beruntung menemui burung cenrawasih betina di dalam hutan.

Semakin ke dalam mendekati kawasan Taman Nasional Gunung Leuser terdapat deretan penginapan. Di gerbang taman nasional inilah tempat pemberian makan (feeding) orangutan konservasi setiap pagi dan menjelang sore. Kegiatan ini tentunya menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Namun, saya tidak menginap di penginapan, melainkan di tenda di dalam hutan atas bantuan pemandu. Di bibir sungai di kaki bukit, tenda dari plastik untuk tidur dan tenda masak didirikan para pemandu. Turis mancanegara bisa menginap hingga tiga malam di dalam hutan. Pulang dari menginap, mereka biasanya menaiki ban terpompa yang berfungsi sebagai cano untuk meluncur di arus sungai kembali ke penginapan.

Selama menyusuri sungai saya, menemui lima air terjun berukuran sedang dan kecil dari dinding bukit. Kesegaran seketika merambat dari kulit menembus daging saat membasuh muka, tangan, dan kaki dengan air yang sejuk dan jernih.  Air ini adalah “tumpahan” langsung dari dinding bebatuan. Sungguh pengalaman di hutan yang sangat berkesan.