Menelusuri Peradaban Sriwijaya di Candi Muaro Jambi

Paradaban kerajaan-kerajaan masa lampau di Tanah Air, meninggalkan banyak artefak yang hingga kini sebagian besar masih menjadi misterius. Salah satu bukti nyata peradaban zaman dulu adalah keberadaan Candi Muaro Jambi yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya.

Dari sekian banyak candi Budha di Tanah Air, sebagian besar berada di Pulau Jawa. Namun, salah satu candi Buddha dengan kawasan yang terbesar se-Asia Tenggara berada di Pulau Sumatra, tepatnya berada di Provinsi Jambi, yakni Candi Muaro Jambi. Lokasi Candi Muaro Jambi berada di tepian Sungai Batang Hari, dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dalam waktu 30 sampai dengan 45 menit dari Kota Jambi.

Setibanya di Kawasan Percandian Muaro Jambi, Sobat Pesona akan langsung melihat Candi Kedaton yang berada di garda terdepan, dan berada di tepi jalan lintas menuju komplek percandian. Tidak jauh berselang, mulai terlihat sederetan kios yang menjual cenderamata, dan tibalah di gapura kawasan wisata Candi Muaro Jambi.


Kota Kerajaan Abad 7-12 Masehi
Menurut sejarahnya, candi-candi yang berada di kawasan ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi hingga abad ke-12. Jika diamati secara tata letak, Komplek Percandian Muaro Jambi yang memiliki luas mencapai 3.800-an hektare tersebut, bisa jadi pada awalnya merupakan sebuah kota kerajaan yang menjadi pusat peradaban masa lampau.

Setidaknya sudah ada sembilan candi yang ditemukan dan sudah mengalami ekskavasi dan pemugaran, antara lain Candi Gumpung, Candi Tinggi 1, Candi Tinggi 2, Candi Kembar Batu, Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong 1 dan 2, Candi Astano, serta sebuah kolam yang dikenal dengan Talaga Rajo. Penamaan candi-candi tersebut berlandaskan pada struktur bentuk, dan juga daerah di sekitar candi tersebut.

Saat memasuki Komplek Percandian Muaro Jambi, Sobat Pesona akan disuguhi pemandangan yang asri dan halaman beralaskan rerumputan hijau dari Candi Gumpung. Tidak jauh dari situ, terdapat area Candi Tinggi yang juga telah mengalami pemugaran. Selain itu, masih banyak gundukan tanah di sekitar candi tersebut yang diperkirakan sebagai candi, hingga saat ini diperkirakan masih ada sekitar 100 gundukan (candi), namun belum mengalami ekskavasi dan pemugaran.


Luasnya 12 Kali Candi Borobudur
Kawasan Percandian Muaro Jambi merupakan kawasan percandian yang terluas secara wilayah, bahkan diperkirakan 12 kali lebih luas dari kawasan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa tengah. Saking luasnya area percandian Muaro Jambi, letak candi-candi terpaut jarak yang cukup jauh satu sama lainnya.

Sembilan candi sudah berdiri kokoh setelah mengalami ekskavasi yang dimulai dari tahun 1980an. Namun, masih banyak Menapo atau reruntuhan bangunan purbakala yang masih tertimbun tanah. Kemungkinan mencapai ratusan yang tersebar di kawasan tersebut, ada yang ditemukan di pemukiman penduduk, di lahan perkebunan, bahkan di dalam kawasan pabrik.

Menariknya, jika dilihat dari udara, Kawasan Percandian Muaro Jambi ini memiliki jalur transportasi sistem kanal. Terbukti dengan ditemukannya kanal kuno, dan bila musim penghujan atau saat Sungai Batang Hari pasang, Sobat Pesona dapat mengelilingi Kawasan Percandian Muaro Jambi ini dengan menggunakan sampan atau perahu kecil.

Kawasan Percandian Muaro Jambi, pertama kali ditemukan oleh seorang perwira Inggris, S.C. Crooke pada tahun 1824. Saat itu, S.C. Crooke tengah melakukan pemetaan sepanjang pesisir Sungai Batang Hari. Kemudian pada 1975, ekskavasi mulai dilaksanakan oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di bawah komando R. Soekmono.

Menurut hasil temuan tersebut, disimpulkan bahwa Candi-candi di Muaro Jambi merupakan peninggalan peradaban dan tempat peribadatan zaman kerajaan Sriwijaya yang mayoritas telah mengenal budaya dan kepercayaan Buddha Mahayana Tantrayana. Hal tersebut didukung oleh beberapa artefak yang ditemukan, seperti Stupa, Arca Gajah Singh, dan Arca Prajinaparamita yang tersimpan baik di Museum Candi Muaro Jambi.

Nah, karena kawasan ini sangat luas, Sobat Pesona dapat menyusuri setiap sudut Candi Muaro Jambi dengan sepeda yang banyak disewakan di sekitar Candi. Atau dapat juga menggunakan becak motor jika ingin menelusuri lebih jauh seluruh kawasan percandian ini. Ayo! Kunjungi Candi Muaro Jambi, dan mendukungnya sebagai warisan budaya dunia yang kelak akan tercatat di UNESCO.


Foto : Rakhmat Koes