Pembuatan Kain Sasirangan yang Tak Lepas dari Legenda

Kain Sasirangan barasal dari kata sasirangan atau 'menyirang' yang berarti menjelujur. Cara pembuatan kain ini pun sesuai dengan namanya yaitu dengan menjelujur, lalu diikat dengan tali yang kemudian dicelup ke pewarna pakaian.

Kain merupakan peninggalan budaya oleh nenek moyang yang harus kita lestarikan. Terdapat banyak sekali jenis kain yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Kain Sasirangan, yang berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan.

Kain Sasirangan yang merupakan kain adat suku Banjar. Konon, Patih Mangkurat sedang bertapa dan di akhir tapanya, beliau mendengar suara perempuan. Suara perempuan tersebut berasal dari segumpal buih. Sang putri memiliki permintaan yaitu dibautkan sebuah istana, dan Patih Mangkurat harus menenun selembar kain yang kemudian diwarnai oleh 40 putri.

Begitulah asal mula Kain Sasirangan menurut masyarakat setempat. Kain Sasirangan rupanya memiliki mitos yang dipercaya hingga saat ini, yaitu sebagai kain penyembuh penyakit. Selain itu Kain Sasirangan pun dinilai dapat melindungi pemiliknya dari roh jahat dan melindungi dari gangguan makhluk halus.


Proses Pembuatan
Kain Sasirangan barasal dari kata sasirangan atau 'menyirang' yang berarti menjelujur. Cara pembuatan kain ini pun sesuai dengan namanya yaitu dengan menjelujur, lalu diikat dengan tali yang kemudian dicelup ke pewarna pakaian.

Warna pakaian yang digunakan tidak boleh sembarangan dan harus sesuai permintaan pemesan. Hal ini karena setiap warna pada kain sasirangan mengandung maksud dan tujuan tersendiri.

Kain Sasirangan dibuat menggunakan bahan pewarna alami yang masih tradisional. Warna kuning diperoleh dari bahan alami kunyit atau temulawak; warna merah dari buah mengkudu, gambir, dan kesumba; warna ungu berasal dari biji buah gandari; warna cokelat dari kulit rambutan; dan warna hijau yang berasal dari kauau atau uar.


Foto: Jaka Thariq