Pura Lingsar, Tempat Ibadah Dua Agama di Lombok

Pura Lingsar merupakan contoh nyata bahwa Lombok adalah salah satu daerah di nusantara menghargai toleransi. Umat Islam dan Hindu secara harmonis beribadah di Pura Lingsar dan saling menghormati satu sama lain.

Lingsar sebenarnya merupakan nama sebuah desa di kabupaten Lombok Barat. Seseorang dari Bali datang ke Lingsar dan kemudian membangun pura pada 1714.  Umat Hindu Bali dan Muslim Sasak secara damai beribadah dalam Pura Lingsar. Pura Lingsar sebagai pura terbesar di pulau Lombok juga merupakan simbol kedamaian dan toleransi yang terjaga dengan baik salah satunya ditunjukkan dengan sebuah upacara bernama Pujawali.

Upacara ini awalnya adalah ritual yang dilakukan oleh umat Hindu, tapi kemudian berinkulturasi dengan budaya Islam. Pada bulan purnama keenam tahun Saka atau sekitar Oktober hingga Desember.

Ada juga acara unik di sini yaitu Perang Topat. Perang topat dilakukan dengan saling melempar ketupat antara umat Hindu dengan umat Islam sebagai ucapan syukur dan permohonan berkah hujan untuk pengairan di lahan mereka. Ketupat yang sebelumnya digunakan untuk perang, akan dikumpulkan dan dijadikan pupuk di sawah. Perang Topat juga merupakan ungkapan syukur atas ulang tahun Pura Lingsar.


3 Bangunan Utama dalam Pura Lingsar Lombok
Semua bangunan dalam Pura Lingsar terletak dalam ketinggian yang sama. Tidak ada bangunan yang letaknya lebih tinggi atau lebih rendah. Hal ini tidak lepas dari sejarah Pura Lingsar Lombok yang merupakan lambang kesetaraan antara semua semua pemeluk agama. Berikut adalah tiga bangunan utama dalam Pura Lingsar:


Pura Gaduh
Dalam Pura Gaduh, berada  di empat persimpangan yang melambangkan empat Dewa yang mendiami gunung di sekitar pura.  Persimpangan ke arah timur merupakan tempat pemujaan untuk dua dewa yang tinggal di Gunung Rinjani. Persimpangan ke arah barat merupakan tempat pemujaan bagi dewa yang mendiami Gunung Agung. Di antara dua persimpangan tersebut, terdapat sebuah persinggahan yang menyatu atau istilah lokalnya gaduh


Kemaliq
Kemaliq merupakan pura yang dipergunakan oleh umat Islam Sasak atau Islam Wektu Telu untuk beridabadah. Meskipun tempat isi biasa dipergunakan oleh umat Islam, tapi umat Hindu juga diperbolehkan untuk menggunakannya. 

Di Kemaliq terdapat sebuah kolam yang dipercaya membawa keberuntungan bagi siapapun yang dapat melihat ikan tuna yang hidup dalam kolam tersebut. Ikan tuna dalam kolam kecil tersebut, menurut mitos adalah jelmaan tongkat Datu Milir, seorang raja dari Lombok yang memohon hujan dengan berdoa di kolam tersebut.


Pesiraman
Di dalam area Pura Lingsar, akan dijumpai sebuah tempat untuk membersihkan diri. Tempat tersebut dinamai Pesiraman. Terdapat lima buah pancuran di dalam Pesiraman tersebut. Air pancuran di dalam Pesiraman ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Di dalam Pura Lingsar juga tidak diperkenankan untuk memberikan sesaji yang terbuat dari daging sapi ataupun daging babi. Sapi bagi umat Hindu merupakan hewan yang disucikan sementara babi bagi umat muslim adalah hewan yang dinajiskan.


Foto: Jaka Tariq