Serunya Berbelanja dari Kapal Kelotok di Pasar Terapung Lok Baintan

Aktivitas ekonomi yang ditunjang dengan alat transportasi berupa perahu tanpa cadik, memiliki sensasi tersendiri yang tidak pernah Sobat Pesona bayangkan. Berbelanja beragam kebutuhan di pasar daratan sudah hal biasa bukan?

Julukan Kota Seribu Sungai memang sangat pas disandang Banjarmasin karena kota ini dilewati Sungai Martapura sepanjang 15 kilometer. Tentu saja, hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dengan ragam kearifan lokal yang diusahakan untuk tetap lestari, salah satunya adalah Pasar Terapung Lok Baintan.

Aktivitas ekonomi yang ditunjang dengan alat transportasi berupa perahu tanpa cadik, memiliki sensasi tersendiri yang tidak pernah Sobat Pesona bayangkan. Berbelanja beragam kebutuhan di pasar daratan sudah hal biasa bukan? Nah, Sobat Pesona bakal menikmati suasana pasar yang gaduh karena akad jual-beli di tengah Sungai Martapura. Seperti apa, ya, rasanya jika belanja di atas pasar terapung ini?

Jarak dari kota ke pasar terapung sekitar 60 hingga 90 menit. Karena pasar terapung, kita kita perlu menyusuri sungai sejak pagi hari. Udara yang dingin, hawa yang sejuk dengan ayunan lembut dari perahu kelotok yang terkena aliran sungai yang pelan merupakan pengalaman yang mungkin tidak mudah didapatkan di kota, atau bahkan daerah lain. Waktu yang tepat untuk datang ke Pasar Terapung Lok Baintan adalah sekitar 5.30 hingga 9.30 WITA. Lebih cepat lebih baik agar tidak terlalu ramai.

Pasar Terapung Lok Baintan lebih banyak dikuasai oleh para “acil” atau bisa disebut ibu-ibu yang sedang mencari keperluan sehari-hari, mulai dari sayuran, buah-buahan, kerajinan khas Kalimantan dan beragam jajanan kue tradisional. Sebagian besar pedagang yang ada di sini juga kaum wanita yang sudah berdagang sejak pagi sekali. Ada juga beberapa penjual pria, tapi jumlahnya kalah banyak dibanding kaum acil-acil di sini.

Tiba di area pasar, Sobat Pesona jangan kaget kalau suasananya sangat “gaduh”, tidak seperti pasar pada umumnya, Pasa Lok Baintan memang masih menggunakan sistem akad sebagai transaksi jual beli. Sistem akad merupakan kebiasaan turun-temurun yang menunjukkan bahwa masyarakat Desa Lok Baintan taat dalam beragama serta memegang teguh aturan leluhur. Akad tersebut diterapkan oleh ulama besar Islam yaitu Syekh Muhammad Al-Arsyad Banjari dalam kitabnya Sabilal Muhtadin. Jadi, Sobat Pesona jangan bingung ketika menemui aktivitas ekonomi yang tidak biasa di antara para penjual dan pembeli di sini, ya.

Sebagian dokumen sejarah mengenai keberadaan pasar terapung di wilayah Kalimantan Selatan tersebar di beberapa lokasi seperti Muara Kuin, Lok Baintan, Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Dewi. Faktanya, tradisi kegiatan jual beli di Pasar Terapung Lok Baintan sudah ada sejak masa pemerintahan Kesultanan Banjar. Jadi, apakah Sobat Pesona tertarik berkunjung ke Pasar Terapung Lok Baintan?


Foto: Jaka Thariq