Desa Wabula, Penghasil Kain Tenun Khas Buton

Kain tenun dengan pewarnaan alami ini sangat memikat wisatawan. Desa Wabula, menjadi salah satu penghasil kain tenun khas Buton yang terkenal.

Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara tak hanya dikenal sebagai daerah penghasil aspalnya saja. Namun hasil budayanya pun sangat tersohor dan mampu menembus pasar dunia, salah satunya Tenun Wabula. Kain ini merupakan kain tenun pencelupan dengan pewarna alam, yang berasal dari akar, batang, daun, dan buah-buahan. Tanaman yang digunakan juga tidak sembarangan, melainkan pohon mahoni, pohon nila, pohon tarum, pohon ketapang, pohon pisang dan pohon sukun.

Di Buton terdapat dua desa yang menjadi sentra pengrajin kain tenun pencelupan pewarna alam ini, yaitu Desa Wabula dan Desa Wabula Satu, Kecamatan Wabula. Hampir 75 persen ibu-ibu dan gadis remaja di dua desa tersebut menjadi penenun.

Sejak era Kesultanan Buton, masyarakat Wabula sudah mengenal tenun. Hanya saja pada saat itu masih menggunakan alat tradisional dan bahan baku seadanya yang ada di alam, serta belum mengenal bahan pewarna seperti sekarang. Tenun Wabula sekarang sudah menembus pangsa pasar internasional seperti Selandia Baru, Singapura, dan Amerika Serikat.

Sedangkan di level nasional, sejak dua tahun terakhir ratusan lembar kain tenun sudah berhasil terjual, khususnya di daerah Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Bahkan kain ini pun sudah digunakan oleh beberapa desainer terkenal di Indonesia.


Cara Pembuatan
Untuk membuat kain tenun khas Wabula, pertama yang harus disiapkan adalah benang putih yang dicelup ke dalam pewarna alam yang telah diracik. Setelah itu dikeringkan, kemudian ditenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), atau biasa disebut masyarakat setempat gendokan (pimoorua).

Jangka waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu lembar kain tenun khas Wabula tergantung dari proses pencelupan benang dan juga cuaca. Jika cuaca panas, dalam waktu dua hari benangnya sudah kering. Namun jika hujan, membutuhkan waktu 3 hingga 4 hari untuk kering. Paling cepat memakan waktu 9 sampai 10 hari lamanya untuk satu lembar kain.

Ada lima motif kain tenun Wabula, yaitu motif garis, motif ikat, motif pluring, motif kotak dan motif cap. Harganya sendiri bervariasi tergantung bahan pewarnanya dan kesulitan pembuatannya. Untuk harga penjualan paling rendah sekitar Rp250.000 per lembar. Sedangkan untuk harga paling tinggi itu sekitar Rp650.000 per lembar.

Jika kita datang ke Buton, jangan sampai menyesal jika pulang tak membawa oleh-oleh kain tenun khas Wabula ini. Pasalnya jika sudah keluar dari Buton maka harga yang dibandrol tentu sudah tidak murah lagi.