Pantai Seger Lombok dan Legenda Putri Mandalika

Seperti pantai-pantai lainnya di wilayah Lombok Tengah, Pantai Seger dikelilingi bukit menghijau yang memukau. Di sini, terdapat patung Putri Mandalika yang kisahnya sudah melegenda bagi masyarakat Lombok.

Selalu ada legenda di balik kemunculan sebuah tempat, terutama di Indonesia. Saya membaca kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi di balik kemunculan Tangkuban Perahu, yang bercerita tentang anak laki-laki yang jatuh cinta pada ibunya sendiri hingga berakhir dengan kepalanya dipukul dengan batok kelapa.

Bagaimanapun, betapa ajaibnya cerita rakyat, orang Indonesia memiliki formula serupa untuk setiap daerah di Nusantara. Kehadiran legenda sering kali tak jelas asal usulnya, diceriterakan turun-menurun, menjadi tradisi lisan kebanggaan setiap daerah. Pada masa kini, kehadiran legenda diangkat kembali sebagai daya tarik wisata suatu tempat.

Karena itu, saya ingin menyampaikan sebuah legenda yang saya dengar saat mengunjungi sebuah pantai di wilayah Lombok Tengah. Pantai Seger, yang terletak tak jauh dari Pantai Kuta Mandalika, masih berada di satu garis pantai, sekitar dua kilometer ke arah timur.

Saya menginap di wilayah Pantai Kuta yang berjarak lima belas menit dari Pantai Seger dengan sepeda motor. Jalan menuju pantai ini sempit dan lumayan mulus, dengan semak-semak menjulur ke aspal.

Seperti pantai-pantai lainnya di wilayah Lombok Tengah, Pantai Seger dikelilingi bukit menghijau yang memukau. Pantai ini terbuka untuk umum, sepeda motor atau mobil cukup membayar biaya parkir di dekat pintu masuk yang dibatasi portal. Saya pun menelusuri jalan berkerikil yang agak becek. Di sebelah kanan, terlihat jembatan bambu dan jalur air yang berkelok-kelok seperti akar pohon. Pagi itu air rupanya sedang surut dan batu karang menyembul di mana-mana.

Saya memilih berbelok ke kiri, disambut dua bukit menjulang dengan pemandangan yang sangat cantik. Saya berjalan ke sisi kanan dan berpapasan dengan pria tua berambut pirang yang sedang jogging di bukit.

Setiap tahun, sekitar Februari, biasanya masyarakat setempat mengadakan ritual Bau Nyale di Pantai Seger. Bau Nyale, yang dalam bahasa Sasak berarti “berburu cacing laut”. Bau Nyale merupakan ritual penghormatan terhadap Putri Mandalika. 

Menurut legenda, Mandalika adalah seorang putri dari kerajaan yang pernah berkuasa di Lombok. Selain berwajah cantik, putri ini dikenal baik budi. Banyak pangeran jatuh cinta padanya dan berebut meminangnya.

Putri Mandalika yang tak sampai hati melihat para pangeran bertarung demi mendapatkannya memutuskan untuk terjun ke laut. Orang-orang berusaha mencari jasadnya, tetapi yang ditemukan hanyalah hewan laut sejenis cacing yang kemudian diberi nama nyale. Mereka meyakini bahwa nyale adalah jelmaan Putri Mandalika.

Sebuah monumen dibangun di Pantai Seger untuk menghormati kepergian Putri Mandalika. Dan sebuah ritual diadakan setiap tahun untuk menangkap nyale.

Setelah puas memandang Pantai Seger yang menyegarkan, saya berjalan turun. Tak ada satu orang pun di pantai. Tak ada yang berenang, tak ada yang berjemur, tak ada yang berselancar. Saya lalu melangkah pergi sambil menatap patung punggung Putri Mandalika yang dikejar oleh para pemujanya.