Ludruk, Gaya Jawa Timur Salurkan Kritik, Lugas dan Menghibur

Selain berfungsi sebagai hiburan ala Jawa Timur, Ludruk juga memiliki arti sebagai pengungkapan kehidupan masyarakat serta tempat penyaluran kritik sosial. Sejak masa kolonial Belanda, kesenian Ludruk sering memasukkan cerita atau dialog-dialog yang menyindir dan mengkritik pemerintahan kolonial.

Sobat Pesona tahu Ludruk? Ludruk merupakan kesenian drama tradisional dari Jawa Timur, biasanya diperagakan oleh sebuah grup kesenian dengan membawakan cerita tentang kehidupan sehari-hari, cerita perjuangan maupun cerita lainnya. Salah satu ciri khas Ludruk adalah penggunaan bahasa yang mudah dimengerti, kesenian Ludruk bersifat hiburan oleh sebab itu terkadang Ludruk terkenal sebagai pentas humor. Ludruk juga terkadang diiringi dengan seni musik yaitu akunan gamelan jawa.

Ludruk selain berfungsi sebagai hiburan, juga memiliki arti sebagai pengungkapan kehidupan masyarakat serta tempat penyaluran kritik sosial bahkan ketika masa kolonial Belanda, kesenian Ludruk sering memasukkan cerita atau dialog-dialog yang menyindir dan mengkritik pemerintahan kolonial.


Semua Pemain Laki-Laki
Ada dua perbedaan pendapat tentang asal mula Ludruk. Ada yang mengatakan bahwa kesenian ini berasal dari Surabaya adapula yang mengatakan berasal dari Jombang. Namun kesenian ini berkembang dan tubuh dengan baik di Surabaya, Jombang, Mojokerto, Malang, Blitar, Sidoarjo, Probolingga, Madiun, Kediri, Gresik, Lumajang, Bondowoso, dan Jember.

Para pemain kesenian Ludruk ini semuanya terdiri dari pria, sehingga jika ada peran wanita para lakon Ludruk cenderung menjadi kelompok travesty atau parodi. Ciri khas kesenian Ludruk lainnya terdapat dalam dekorasi, kostum, urutan pementasan, dan cerita. Cerita Ludruk terbagi menjadi dua macam, cerita pakem dan cerita fantasi.

Cerita pakem merupakan sebuah cerita mengenai tokoh-tokoh terkenal di wilayah Jawa timur, seperti Cak Sakera dan Sarif Tambak Yoso. Selanjutnya, cerita fantasi yang merupakan cerita karangan individu tertentu yang baisanya berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Kesenian Ludruk mengalami periode perkembangan disetiap zamannya dan memiliki nama penyebutan untuk setiap periodenya, seperti Periode Lerok yang berlangsung pada tahun 1907 - 195, Periode Ludruk Besut yang berkembang di tahun 1915 - 1920, kemudian Periode Lerok Besut yang berlangsung dari thaun 1920 - 1930, Periode Lerok dan Ludruk yang berlangsung tahun 1930 -1945, selanjutnya Periode setelah Proklamasi di tahun 1945 - 1965, dan terakhir Periode Orde Baru yang dimulai dari tahun 1965 hingga kini.

Namun kenyataannya, kini Ludruk semakin pudar. Sedikitnya ketertarikan masyarakat membuat kelompok Ludruk pun semakin berkurang. Dikhawatirkan kesenian Ludruk semakin ditinggalkan atau bahkan akan punah. Nah, Sobat Pesona, nonton Ludruk yuk!


Foto: Paulus Madrai