Mengenal Sultan Siak yang Memiliki Istana Memesona

Kesultanan Siak Sri Indrapura muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya.

Kesultanan Siak Sri Indrapura adalah kerajaan Melayu Islam terbesar di Riau yang masa kejayaannya terjadi pada abad 16-20 Masehi. Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan.

Istana Siak Sri Indrapura atau Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim.

Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Kini peninggalan kerajaan Melayu yang terletak di Kota Siak Sri Indapura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau ini menjadi satu wisata unggulan yang ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Istana ini terletak tak jauh dari pelabuhan dan menghadap Sungai Siak.

Tak hanya cantik karena perpaduan arsitektur Melayu, Eropa, dan Arab, sejarah yang disimpan di Istana Siak Sri Indrapura juga menarik. Sekarang Istana Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kerajaan, seperti kursi singgasana kerajaan yang berbalut emas, duplikat mahkota kerajaan, dan brankas kerajaan.

Ada juga payung kerajaan, tombak kerajaan, dan komet yang menjadi barang sangat langka dan menurut cerita hanya ada dua di dunia.

Kesultanan Siak memperoleh tempat di panggung perjuangan Indonesia ketika Sultan Syarif Kasim II menyerahkan mahkota, istana, dan hampir seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura kepada pemerintah RI.

Uang sebesar 13 juta gulden tentu saja bukan jumlah yang kecil. Jika ditakar dengan ukuran sekarang, nominalnya kira-kira setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno.

Hal ini dilakukan sebagai penegas bahwa Kesultanan Siak Sri Indrapura yang dipimpinnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Foto: Vivaldi